Thursday, September 30, 2004

Habibti

“Kayaknya nggak bener juga TBS itu. Mosok sih tadarusan kok sudah sampai al Furqon. Sekarang kan baru masuk Ramadhan hari ke 10”.
“Walah mosok sih Mbloh, lha wong semalam saja di RCTI Tarawih di Mekah baru sampai surah 12, al Furqon itu kan surat ke 25. Dewekan Mbloh?”.
“Ora juga, katanya sih barengan sama 01 nya”. Jelas Gombloh sang BBY.
“Lho, katanya TBS itu sendirian saja di pos 2 nya, 01 nya berdomisili di pos 1”.
“Katanya sih pada ngasih progress-report bacaan, melalui 10-21”.
“Keren ya. Tapine opo bojone podo seru tadarusane, bukannya beliau itu masih nyambut gawe di deka-i. Mbloh?”.
“Iyo Tom. Lha TBS nya juga tadarusan nya kok koyok wong kesurupan.
Semalam aja bakda witir, saat kami tiduran.
Sambil nunggu sahur dianya sempat melahap surah Thaha, an Nur dan al Furqon”.
“Wajar toh, bakda tarawih kan antara jam 21-22. Sahurnya katakanlah jam 3”.
“Iyo nek tarawihe nang mesjid. Di pos 2 itu lha Isyanya saja tengah bengi kok”.
“Kalau gitu simonyetnya lagi sedeng aja tuh?”.
Satu celetukan mumbul nyikikik tanpa salam lekom, apa nandain masuk.
“Kuntilanak mana tuh yang ngomong? 10-28 dong biar jelas”.
Seru TDK alto kejepit, yang juga tanpa salam lekom.
Sesaat, dua saat, tiga saat. Jalur hening tanpa 10-25. Hilang tanpa sebab.
“Mana yang nyeletuk?”. Seru TDK yang hawanya masih teramat tinggi.
Empat saat, lima saat, enam saat. Masih hening saja. Kayaknya dianya mujiran.
Alias musnah tanpa karana.

“He maling jemuran. Di jalur ini kalau ngomong pakai otak dan pakai 10-28.
Tinggalin KTP apa notel, biar gampang kalau udah ngebet kepengen kencan.
Jangan asal pentang bacot. Aku nih TDK operator Endar. 10-20 Dasana”.
“Udah Ka, anggap memedi binti jurig”.
Seru TBY sembari kukulutus.
“Iya Ka shabar ngapah, ini kan chatting ramadona 1422 hotel”.
Timpal Tomi, sang BCS yang malam itu jadi ki lurah.
“Kayaknya nggak pantes deh diceletukin sama comberan begitu. 10-25 perihal isian ibadah di bulan suci. Sementara TBS itu sesepuh kita. Nyang bener ajah luh bu.
Kalau gua tahu, pokoke apa nggak gua engkek engkek luh”.
“Udah Ka, udah. Mungkin juga ibu ituh apa merasa tetangganya apa merasa temen maen congklaknya pak Simon. Jadi mulut bau sudah biasa, gosok gigi tidak biasa.
Yah namanya juga di jalur Ka. Bude sugeng moro seneng. Iyo ora Mbloh?”. Elus Tomi.
“Iya Tom, tapi betul kata TDK itu. Biar apik obrolanne. Mbok kita ngobrolnya sembari ngilmu gituh. Biar dapet ilmu, mancingnya pakai ilmu. Kalau kepingin dapet senyuman di cermin, berikan dulu sepotong senyum. To get and to ride.
Sekalian kita jaga kesucian ramadona”.
“Berapa sinyalnya Ka?”. Tanya Anto.
”S-5”.
“Sama. Lagi nge DX dianya Ka.
Mungkin juga lagi cari jodoh, pengen jejaka ya milih guah, doyan duda ya milik anune eluh Ka. Hehehe”.
“Iya kali Ye. Tapi mana doyan dianya sama duda sepeleng model guah”.
Dari tawa TDK serasa suaranya sudah berubah dari alto ke bariton, semoga segera saja kembali ke aslinya. Ngebass.
“TDK, BBY”. Panggil Gombloh.
“Selamat malam pakde. TDK yang masuk nih. 51, 55 semoga 10-2”.
“Selamat malam kang Endar. Kemana kok ya iki bocah lawak.
Sudah 2 malam kita tunggoni. Katanya mau ikutan tadarus di TBS”.
“Maaf pakde. Di 86 lagi persiapan annual inventory. Masih lemburan”.
“Kalau gitu sudah ora kangen sama kopi pahitnya pak Simon ya. Hehehe”.
“Kalau di pos 1 iya pakde, kopi pahit. Kalau di pos 2 mah nggak kali.
Hehehe jadi ingat kopi darat perdana sama TBS.
Seumur hidup baru ngerasaain, nenamu munggaran disuguh kopi hitam pahit”.
“Bukannya situ diabet?”. Goda BBY.
”Katanya sih kehabisan gula. Hehehe. Mangkanya gua cinta banget sama RAPI karena sesepuhnya aja apa adanya bae nggak main basa basi.
Padahal waktu ngolong, kopi manis mah setandar”.
“Iya Ka. Waktu guah baru kenal HT, suara pertama yang guah kenal ya pak Simon itu.
Jadinya guah daftar Santiaji, nggak sempat mojok di kolong”.
“Tapi Ye, kalau aku sih dendem tenan karo sing pak Simon kuwi. Aku karo Gombloh kok sempat sempatnya dikerjain disaat monitor Pemilu 2000. Iyo ora Mbloh? Hehehe”.
“Namanya juga kang Simon, udah beken tukang melonco-i anggota”. Seru BBY.
“Memangnya kenapa pakde?”.
“Ditengah suasana nyoblos, datanglah TBS ke stasiun bergerak kami To. De-e bilang bapak dari RAPI ya? gimana caranya pak kalau kami mau bergabung? Tomi lantas saja ngasih penyuluhan kilat. TBS juga mengenalkan diri sebagai Gombloh. Untung aku apal modulasi karena sempat 4-5 kali 10-25. Aku tembak balik saja, hehehe. Tinggal Tomi bengong terlongong longong”.
Di jalur 143.20 MHz bergantian kakah kekeh, sesekali ada juga yang mencoba koor. Terbukti dari nada bercuit cuit di speker akibat fenomena beat-frekuensi.
“Gimana Ka?”.
“No comment pakde. Hehehe”.
Aku mah malas nimbrung di jalur karena modal andalanku tinggal HT IC-2GA ini.
Antenna juga sekadar helix.
Akomodasiku tentunya teramat sangat serba terbatas. Ada sih Gombloh menghadiahiku sebuah tele Hi-gain bekas, tapi karena belum ada tiang penyangga. Mangkanya antenna itu belum sempat ereksi, untuk menambah daya jelajah stasiun pos 2 Jayanegara.

Pos 1, hari ke 11.
Sehabis berbuka seadanya kemudian berwudlu. Cekrek kumatikan saja HT. Bakda doa Maghrib berjamaah berserta anak jikan, kuambil al-Q lantas bertawasul menghadiahkan al-Fatihah kepada Rasulullah beserta keluarga dan shahabat, para pengikutnya yang terdahulu, kini dan kemudian, arwah ortu dan ortu jikan, wa illa hawaa hadiyatan khususon habibti, jikan, anak, piminantu. Wa illa hawaa hadiyatun khususon para adik berikut keluarganya dan para shahib berikut keluarga.
Kumulai membaca surat 27 An-Naml lanjut ke al-Qashash sampai ke ayat 28.
Aku berhenti di ain 3.
“Kok berhenti Man?”.
“Jikan mau lanjut tadarus”. Menungku sambil mendengar intro taawudz.
“Falammaa qodloo muusal aajala wa saaro biahlihiiiiii aanasa min jaanibith thuuri naaro”.
Lanjut jikan dengan lentong bacaan khasnya yang selalu terdengar medok di huruf ‘ain.
“Suara jikan maneh, kayaknya jauh lebih merdu dibanding beledugmu kok Man”.
“Hehehe kamu Mon. Namanya saja dianya bikang aku jalu, ya beda toh”.
“Begitu dong Man, tertawalah biar dunia yang sedang rajin berguyur hujan di bulan yang penuh salamah barokah dan mahgfiroh ini, bisa ikut menikmati keceriahanmu lagi. Jangan alum terus”.
“Wah entahlah Mon”. Kembali rona dan wajahnya tertekuk alum lantas terlipat.
“Kenapa Man? Sebegitu beratkah derita bathinmu. Tampangmu kok sepuh nian”.
“Entahlah Mon”. Jawabnya dengan gamang tanpa pijakan pasti.
Desahnya panjang sambil perlahan melepas beban himpitan bathinnya di waruga yang kian kurus mengering.
“Hadapi saja dunia fana yang penuh mimpi dan fatamorgana ini Man. Karena beginilah wujud kita, makhluk hina dina tanpa daya dan upaya semata karena Lillahi Taala saja”.
“Iya Mon”. Bisiknya di seguliran airmata yang mengaliri pipi peotnya.
“Come on Man, ayo dong jangan begitu pesimis kayak anak kecil yang kehilangan mainan saja”.
“Bukannya kehilangan mainan Mon, tapi sesosok buguru kembang surga”.
“Iya iya iya. Tapi kan duniamu belum kiamat. Sekecil apapun tentu masih ada harapan.
Selagi masih ada nafas dibadan, berserah diri saja hanya kepada Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim”.
“Iya Mon”. Keluhnya dengan patahnya.

Memang berat ujian yang dihadapi sosok mahluk tua renta beger mindo berselera remaja tengah jatuh cinta ini.
“Man, bukannya kamu yang suka bilang. Kalau disetiap ujian dari Allah itu asal diterima dengan ikhlas, wa nasta’inu bi shobri was shalah. Akan menjadikanmu bersih diri lahir bathin untuk mampu menerima anugerah dari Allah yang tak akan terperi nilainya”.
“Iya sih Mon”. Senyumnya.
Dari gerak bibirnya, agaknya tadinya akan lahir tawanya. Namun bibir itu segera tertutup. Agaknya sudah sadar saja si Eman ini, akan keadaan giginya yang memang rusak berat dan ancur ancuran bekas dibajak kerbau laiknya.
Kami, aku ini sebetulnya sadulur ka lima pancer si Eman.
Yang ikut lahir bersama oak jeronya ke alam maya ini.
Tapi kan dianya hidup dialam sadar yang penuh golak dunia di sementara akunya. Di sekedar alam bawah sadarnya saja yang kadang biasanya terang cemerlang, terkadang nguyung kelabu atau bahkan suka juga gelap gelita saja. Berserah bagaimana kualitas anune si Eman saja.
Dia hidup dialam lahir, kalau aku dialam bathin tea.
Secara teknis dulunya kami sangat erat meski sebatas dialam cermin.
Karena sampai umur 40 atau sampai saat pak Rais wafat, si wadag ini masih rajin petengtengan di cermin sambil memutar matut diri mengatur penyantelan sampah di badannya.
Sebegitu rajin telatennya, sampai adik dan anak bininya sering mendumel.
Kalau awak si Eman ini, entah gendeng, sableng teuing bencong.

Komunikasi aktif di antara kami berawal di Juli 1883. Saat dia dilantik sebagai anggota Airport berstamboek 239.
(Stamboek? Kawas ka herder sajah).
Ditengah arena kambing guling di Lebak Wangi. Dasar tukang ngoceh dan aksi, namanya segera saja mencuat di belantara radio. Meskipun dianya belum anggota resmi JZ 09 anu, tapi sosoknya, kehadirannya, ideanya, pokok pikiran, sepak terjangnya mesti diperhitungkan oleh para sentono RAPI Tangerang yang pada waktu itu masih lokal 06 wilayah Jakarta Barat. Dalam pertemuan resmi sub-lokal Tangerang Barat mosok dianya terpilih sebagai ketua seksi monitor. Lha KTA saja belum punya.
Mungkin maksud para sontoloyo sih biar dianya terangsang untuk mengurus ijin.
Yaaah, tapi maklum kere. Duit 60 ribu perdwitahunan itu masih berat saja.
Karena kebutuhan inteleknya juga masih menggunung. Lha wong modal ngebrik nya saja buangan dari pasangan muda Ade-Tatu yang hobbi berantem karena soal permojokan. Padahal mereka itu, ketemu jodohnya juga di radio CB nya Tatu yang bermerek Montegomery Ward type 726 itu. Sebuah AM rakitan Jepang yang bertongkrongan gelindingan itu.
Waktu radio itu di pasang di pos 1 awal yang kondisinya masih esde-a saja itu.
(SDA, sesuai dengan aslinya).
Saking kerenya, antennanya saja sok ditimbrungin ke sosok antenna TVRI.
Opo tumon Man. Kok kere tenan sih?
Tentunya ulahnya menjadi tertawaan dan guyonan para pengurus. Si Emannya sambil berkelit dengan enak disebutkan segala eksperimentil teknik komunikasi.
Kebetulan saja dianya sejak 1974 hobbi banget iqro, sambil mepende anaknya yang masih merah orok. Meski saking gemblung baca, sampei si Arief sering banget berperut kembung, karena aksi mipisin popoknya tak termonitor.
Dianya juga rajin ngeceng ke USIS di Tengku Umar, LIA di Rawamangun dan Britih Council di Imam Bonjol. Belum lagi Tb Gunung Agung, Tb Sari Agung di Sarinah Jaya, Tb Gramedia dan sejumlah kios bursa buku bekas di Kramat juga habis diacakadutnya sambil itung itung ngabuburit.
Sambil bermodalkan buku tulis dan bolpen. Makelumin saja peneliti kere.
Namun begitu untuk transportasi dianya ngadurudud numpak Honda CB-100 biru
Tetapi itulah makna agung kepada cinta Allah dan Rasulnya. Karena tholibul ilmi itu menjadikan sebuah jihad fisabilillah.

Di Tangerang itu hasilnya bukan saja dianya bisa ngebrik dengan antenna TV, bukan cuma datang kemudahan eksklusif antenna bekas dan lain lain, tetapi juga suaranya juga sangat didengar oleh para gegeden yang umumnya memang personil eksklusif yang ijo royo royo. CB mereka buat hobbi menyalur hasrat sosiologis atau berahi mangku wanito.
Si Eman waktu itu masih berstatus mahasiswa tingkat V, yang sering pulang berbasah kuyup kehujanan di Grogol nungguin kedatangan transportasi kelas kambing PPD trayek 911, 912 atau 913.
Pulang ke rumah, pertama shalat.
Kedua bikin enteh panas manis sebekong, ketiga nyalakan CB, keempat isep berbatang kretek, kelima ngebrik Sakasyike sakpuase sakendase sakudele.
Pada 1984, disaat peristiwa Tanjung Priok, sudah doyan 2 meteran.
Acara kelima, biasanya diisi mojok ria bersama mbak Lala, sampei jikan sebel binti manyun. “Sudah atuh beh. Biar nggak penasaran tiap malam, hayoh samperin saja sanah. Mau dileyek, arek dilebok, sakbodo teuing. Tibatan tiap malem memesuman. Matak arateul ceuli jeung liang ta-eun”.
Huh dasar si Ambu, kalau aku ho-ohin, apah nggak matakan nyiar pimodareun sajah?.
Keenam, disekitar janari baru dah dianya ngekepin sang jikan, yang tentu sudah dahdiran.
Bagi si Eman ngebrik bukan buat sekedar ngocol tetapi juga tholabul ilmi apa saja.
Lahir bathin dunia akhirat.
Mangkanya opo ora hebat, kalau lama suaranya tak terdengar di CB, suka ada saja yang bercumbu iseng atau serius mengangeninya. Vokalnya memang semi bass bariton, ritmenya rada sengau tapi temponya lumayan tinggi. Sehingga cara ngawaduk, terkesan sedang diudag hansip atau ibarat maling dikejar anjing.
Lha begitu si Eman. Quantanamera.
“Tiap orang lahir beda kok”. Cuweknya.
“Perbedaan itu kalau mampu disyukuri, justru memperkaya khazanah akar sosio budaya dan rekayasa umat manusia”. Itupun kualau muampu muikiiir.
Karena muikir itu kan musti punya uotak.

Di seantero Tangerang ini bahkan Jawa Barat dan sekarang Banten plus tambah DKI Jakarta dan Lampung. Siapa coba yang kenal si Eman? Agaknya ora ono, selain cuma segelintir keluarga dekat atau teman sebaya yang sudah out-of-order atau bahkan rada apekir duniawi.
Di kalangan pengguna radio komunikasi pastinya lebih dikenal aku, si Emon saudara anu opat kalima pancernya.
Salahe awake dewek, kok yaaa
Dulu itu sebagai ketua seksi monitor sublokal Tangerang Barat dianya bangga beeng sama akesi seksi monitornya.
Lantas ikut ikutan mau punya nama samaran diudara seperti para kolonger di duameteran. Seksi monitor disingkatnya dengan simon. E-eh panggilan itu kok ya nempel. Kalau kata pakde Johannes Soesanto JZ10TBJ, simon itu identik dengan sosoknya sing tinggi duwur itu.
Tapi samaran ini berbau SARA. Karena pernah diprotes oleh JZ09DMT, Nicodemus Sihombing. Dia takut banget kalau nama Rasulnya dipakai main main.
Lalu dengan semangat kerukunan beragama, apalagi dia seorang PNS. Samarannya harus kudu berubah.
Lalu menjadi aku, si Emon.
Tapi karena orang sudah sebulan kadung tahunya Simon, biar di Emon Emon.
Orang tetap saja memesrainya Simon.
Biar pengikut Alex Endut mememperkan menjadi si monyet juga, ya tetap saja Simon. Sampai kolsennya yang JZ10TBS lantas dilandi saja oleh sesama anggota RAPI menjadi TB Simon atau Tubagus Simon. Si Eman juga suka mikir sendiri, suka merenung sendiri, suka cengenges sendiri. Apa ada ya, menak Banten yang bernama begitu?
Karena Tangerang sekarang sudah kembali menjadi wewengkon Banten, si Eman babaduyan biwirnya. “Teu wasa”.
Apalagi atas hasrat orang yang gemar menyandanginya dengan sebutan si, aa, kang, bang, oom, bapak, abah, embah, sesepuh, guru, penyuluh, teknokrat, mas, dik. Sejak dari para kolonger, BO’er, simpatisan, calon peserta Santiaji, anggota baru, anggota lawas, pengurus. Sampai para sesepuh tulen, jang membidani RAPI sampai membesarkan. Sampai ke RAPI yang sekarang mampu berlari, bahkan siap terbang seperti kuda sembrani. Huiiih, sampai mengkirik bulu kelek. Buat terhadap aku mah si Emon. Masih tetap boro boro. Apalagi terhadap si tangkurak Eman. Tidak adah apah apah nyah acan. Botak polontos butak porongos ompong ora ka sagigihnyah.

Pengalaman bathinnya mulai 1992 saat awaknya terbaring di ruang ICCU RS Sumber Waras. Si Eman ini selalu lebar saja senyumnya dan lepas saja tawanya, entah di alam sunyi sepi atau hujan berbadai sekalipun. Tapi waktu itu tampangnya masih enak dilihat.
Asal dia tertawa, akan bermekaran saja sederetan gigi serinya yang sebesar besar kampak itu. Satu hal, seringai gigi taringnya akan menyebabkan dia tampil macho.
Gigi boleh kuning, asal utuh.
Si Eman ini orang suka usil dan jahil. Tetapi itu juga agaknya yang membuat dianya gampang hadir disetiap kalangan sosial dan profesi. Fasilitas kecil kecilan gampang saja muncul dari personil jenis apapun yang ada didekatnya.
Entah apa saja daya tariknya, padahal dianya ini terkenal trigilnya.
Seorang perawat boleh judes dan formil.
Tetapi seorang suster Eko yang terkenal hitam manis dan demplon, dengan mudah bibir kelunya melahirkan senyum liat tertahan kepadanya, yang bahkan kadang terbawa ke pasien lain yang terheran heran. Gara garanya si otong Eman menjulukinya sebagai, la perle’ noire, si mutiara hitam.
Dasar gorila juling sok peperancisan..
Duduk di ranjangnya di ruang rawat inap, dianya suka enak saja mengobrol dengan segerombolan pemeriksa yang terdiri dari dokter, para suster, dosen, co-ass dan mahasiswa FK Untarumanegara.
Pasien yang lain mah boro boro berani. Karena pada takut disuntik mati ngkali.

“Kalau betul makna waktu dan hidup bukan kita punya ya Mon”. Lewehnya.
Kadang sesenggukan kayak terwelu.
“Atuh heuheuh sajah Man. Ramadhan sekarang sama Ramadhan tahun lalu saja kan jelas dan nyata benar bedanya. Kawas embe jeung kuda. Nggak sih kalau digitalis hitam putih mah“.
Gaya burung pelatuk Aristoteles muncul.
“Atuh iya Man, masih analog kan?. Kalau hitam putih tentu kamunya sudah modar, sudah hidup tenang. Seperti hijrah dari alam dunya ka alam barkah”.
“Maksud kamu, alam barzah meureun Mon?”. Sentaknya bari morongos.
“Hus belum Man, tapi alam hijau pucuk rambutannya ibu Barkah. Pasti lupa deh ya.
Itu rambutan Dukuh?’. Godaku.
E-e-e-eh ituh mata, naha bet make nyurucud kawas bango mabok.
“Meunggeus Man, can jodoh pinastina wae meureun manehna miboga kebon rambutan sakotak di dukuh taeun tea”.

Memangnya sih suasana hati lagi beurat nanggung beurat nyuhun beurat kana kokojayan, kaso pondok kaso panjang kaso ngaroyom ka jalan. Kayaknya sih dianya tagiwur sama yang namanya perjalanan ke batas umur manusia. Dari huleng jentul kebayang pi kapaneun awaknya bakal diantar pindah solitaire ke Vila Betet atau Sirnaraga Legok.
Tahun 1421 H masih bisa salaman minal minul sama HM Yamin dan Poniman.
Sekarang masih shaum saja, kapan keduanya sudah sebulan ber-awarahum. Pada mulih kajati mulang ka asal. Poniman seumur sama si Eman. Kalau HM Yamin malah lebih muda 10 tahun.
Hirup katungtung ku pati, bagja katungtung ku lara. Sima aing sima maung. Lain aing dihakan ku sia, tapi sia lebokeun aing. Dilegleg ka tai taina.
Abdi Gusti. Pamugia katampi sadayana ikhtiarna, ibadah, taubatan nasuha, elmu amaliyah, amal ilmiyah, kadeudeuh, kaasih, kabageur, keteleb, kateuteupna.

“Sudah sampai dimana beh?’. Tanya jikana di bakda Shubuh hari ke 13.
“Semalam baru selesai surah 29 al-Ankabut dan 30 ar-Rum”.
“Cepat juga ya”. Serengehnya maur.
“Yah. Makelum saja kapan kalau sayah na euweuh gawe.
Maka dimanfaatkan saja untuk beribadah”. Jawabnya enteng.
Karena urusan pendistribusian paket Lebaran di kantor, maka di jam 0530 pagi itu si jikana enteng berangkat saja.
Dan yang euweuh gawe itu lanjut membabat surat 31 Luqman dan 32 as Sajdah.
Sampai jam 0630 saat mengingatkan si Aa untuk laporan ke Siemens.
“Laporan apa Man?”. Curengku.
“Ya siap gawe atuh”.
“Kebluk juga ya tidurnya, abong habis sahur.
Bakda Shubuh mata kayak orang mabok sake, tarikan nafas juga berat”.
“Semalam dianya pulang jam 0130”.
“Lembur Man?”.
“Moonlighting di KK. Kapan warnet Raison ngadat lagi.
Atuh si Aa yang ketiban pulung untuk mengopeni”.
“Sempet juga ya Man. Kapan sebegitu sibuk.
Janari sampai pagi terima swara neng Wiena, pagi gawe, malam S2”.
“Disempetin kayaknya. 3 hari lalu Ozie laporan sudah seminggu ngadatnya.
Omset menurun dari 300-400 menjadi sekitar 100an semalam. Mana Padang tutup lagi. Kasian kan, kalau ada amplop ompong menjelang ipar iparku pada mau beli sarung ketupat lebaran”.
“Paling bokis luh Man. Padahal adik dapet eluh juga kebagean ya. Tapi kok tutup Man?, laina marema puasa?”.
“Heueuh. Kapan puasa, atuh kudu tutup. Pada marudik ka Jawa, sehabis 11 bulan bertarung ngempanin tanpa hari libur”.
“Kok Jawa Man? Bukannya Padang”.
“Jawa asalnya. Padang jenis pasakan.
Makelum jaman edun. Mon”. Hehehe.
“Kok tahu saja Man, Padang sekarang jadi nama teknologi rekayasa boga?”.
“Ya tahu dong, kapan kitanya komandan di manajemen CV Raison”. Kekehnya.
“Bukannya kok tahu tutup, kapan eluh juga yang manpaatin kehadiran Raison”.
“Kapan di hari ke 7 ada buka bersama”.
“Datang paling telat ya. Hehehe?”.
“Iya mana Katana ngadat, mana hujan lebat pasosore 2 rintakan. Atuh saat buka masih diatas bus di Slipi. Buka pake lontong tahu seceng murmer”.

“Waktu mau pulang kok mewek Man. Bukannya babaringkes mungkusin sisa”.
“Iya Mon. Lain ngabibisani. Habis sedih inget ka si kembang ati. Kapan kitanya sudah lebih dari setahun selalu bersama, apalagi disaat banyak makanan begitu”.
“Ortu Man?”.
“Kapan Apa 1984, Mimih 1993, Uyut 1996. Sekarang 23 Nopember 2001”.
“Oh, kembang sawarga dah. Heheh”.
“Atuh heuheuh”. Jawabnya lemes.
“Sudahlah Man. Doakan saja tiap bakda fardhu. Tiap baca al-Q. Kapan melalui dia Allah limpahkan karunia taufik dan hidayah spirit baca al-Q kepadamu sejak Ramadhan yang lalu”.
“Heueuh Mon”. Euleuh si jelangkung.
“Orang mah ngalamin Lailatul Qodar, di malam ganjil 10 hari terakhir. Kamu mah sore geuning, 30 Ramadhan 1421 H jam 1532. Sanggeus maca doa khatam, laju shalawatan tepi ka wanci buka.
Si inji ku leweh, kusedih papisah jeung Ramadhan anu pinuh ku salamah, barokah, maghfiroh bareng sapuroh”.
“Iyah Mon, saumur umur kakaraeun ngalaman khatam, sanajan bari 3an oge”.
“Kajeun tadarus babarengan, Insyaallah syah khatam Man. Ngan kawayang bae meureunan gede hulu silaing, ngalaman khatam al-Q samemeh rada modar”.
“Hus, ari maneh sok kaleuleuwihi Mon”. Sergahnya sembari nyerengeh. Biar tua, tapi siapa tak gentar terhadap el-maut.

“Lain urang anu sok kaleuleuwihi teh Man. Kapan teu meunang make banget. Ieuh mah hayuh wae hantem hanteman ku banget. Matakan si inji weureu”.
“Heueuh lah ngaku Mon. Inget keneh dina diuk ngadangukeun khutbah Idul Fitri 1420 diemperan Sinar maju jaba kaderes hujan. Hate urang mah leweh.
Komo waktu ketib ngomong, naha taun hareup panggih keneh jeung Ramadhan.
Sedih Mon, sangkilang dina janari ka 26. Urang jeung jikan, ngalaman anu di gambarkeun ku Rasulullah. Ciri wanci rawuhna Mubarokah Lailatul Qodar”.
“Kumaha Man?”.
“Bakda Shubuh, uing jeung jikan kaluar imah rek nyeuseup hawa seger. Di langit jauh aya warna kabut bodas sakuliah jungking. Dibumi bumi alam asa cicing, salila samenit euweuh sora sakecet kecet acan. Ieu hate urang 2an mani lenyep”.
“Terus maranehna karumaha Man?”.

“Teu wasa Mon. Iwal ti takbir tahmid tahlil salila lila, bari neangan hate anu harita teuing kamana nya maruragna”.
“Edas Man. Ngalaman nyah”.
“Alhamdulillah Mon, kakaraeun saumur umur. Pon kitu cak jikan”.
“Kumaha taun ieu Man?”.
“Insya Alloh. Tas khatam munggaran kaparengkeun geus 5 kali deui khatam.
Panungtung 3 poe memeh shaum ieu”.
“Atuh Ramadhan khatam deuih Man?”.
“Insya Alloh Mon. Niat mah 2 kali. Tapi bangunna moal kabedag.
Wabil khusus kahayang mah urang tiluan tadarusan deui. Cara bihari Ramadhan tukang.
Bari hayang diaping tajwid tur bacaan.
Masyaallah. La haola walaa quuwata”.
“Kunaon Man?”.
“Si injina bet hayang nyorangan, hayang manggih kaajaiban Lailatul Qodar. Wabil khusus, pikeun hirup kumbuh pribadi nyorang kahareupna”.
“Kapan pon kitu urang oge nya Man?”.
“Atuh heuheuh kahayang mah. Tada bareng maring asih Allah sinareng Rasul sangkan ningkatan ibadah ka Mantena”.
“Jadi ayeuna keur nyewangan nya Man.
Urang di pos 2, jikan di pos 1, si inji di pos 3. Kituh?”.
“Hus sok lalawora, kawas si Lamsijan bae ari sakadang kunyuk.
Lain pos 3, da lain posposna kawas kitu deuleu. Heh”.
Cau Ambon di korangan, amisna ka pipir pipir. Si Eman ambon nyorangan.
Inji mah teu mikir mikir. Komoh saheug jikan inya, kapan baruk belul bubaran.
Sanajan belelna ngomong silaturami oge, kapan nyanggerengna mah teuing kawas macan turu. Bangun ngadu jajaten bae sugan. Atuh eleh deet nya Man, sok komo si inji, pasti langlayungeun.

Pos 1 hari ke 14.
Bakda ‘Ashar, laju bae menghanca surat 33 al Ahzab.
Laju deui weh Saba’ sampai datang waktu berbuka.
Abong si Aa keur suwung, buka cukup ku kopi sabekong dan dawet ayu plus ketimun suri diguyur susu kental manis.
Lantas saja mengebul kretek sembari mengamati gaur singa Etosha di VCD.
Jam 1830 baru Maghrib jamiah.
Gede ari kahayang mah ngirim kode, hayang ngadenge suling surga.
Ngan taeun lah, masing sanggeus sababa raha kali boa wae na oge ngodean kikiriningan, tapi kapan lapur taya waleran. Piraku ku suwung lawas bari totorekan neuteuli teu malire onaman.
Tapi orokaya. Lamun inget kana gunem longkrah pi 2 poeun puasa, bet ku asa mahiwal kana sakadang ceulina geuning.
Jaba aya Mamo deuih. Ku teu isin kituh Man, sakadang kolot anu awas keneh.
Kumicir bangun teu boga pangadeg.
Euleuh deuleu, maneh mah sok kupolos teuing ari hirup teh, kawas anu teu boga elmu panemu bae. Isin atuh, kapan cak batur mah, ilaing kapan sesepuh balarea.
Anu sakuduna mah, legok tapak genteng kadek tea bae meureunan. Luas wawasan lebar kawanoh jauh pangambung.
Ulah ieu mah, hayoh bae kawas ka anu beser, tapi cikiihna can lempeng tea.
Atuh uwar awer hangseur kamamendi.

“Sok jiga anu heueuh nya Man, awit ti menta exit-permit sakadang jikan hayang silaturahmi silih pangampura rek mayunan shaum. Inyana make ngomong ulah nganggu ka katenangan kaluargana.
Memangna urang arek ganggu naon onaman Man?”. Asa karadak biwirna.
“Teuing atuh. Eta weh meureun ambek nyedek tanaga mindek, pedah ngarasa kopong geus aya 2 bulaneun euweuh embolna. Kilangeun kanyaah kaasih kadeudeuh kameumeut katineung ti jikan anu sakitu dipikaindung ku inyana”.
“Atuda maneh mah sok lalawora ari nanaon. Kapan jikan geus bewara hamo didua.
Perinsip si Mandra cenah”.
“Enya. Tapi na oge urang na asa abus ka jero bubu anu oge hayoh disosoren.
Mau begituh si babeh kawin sama diah”.
Dina sahiji tanyana bari deuleu teuteup sataker kebek. Atuh uing na arek majar kumaha Mon, kapan jawaban urang mah walah piraku deui bari neneges paroman.
Bari nebak manggu tea meureun”.
“Kapan urangna boga kaahli jeung kabeuki kana tebak manggis tea”.

“Heueuh ari kapanyakit onaman mah, bari heureuy ngeunah, bari serius sedep.
Kapan ari ieu mah ulah kana lalawora.
Kitu dikirata asup laukna herang caina, naha bet ngabeledug bitu.
Puguh weh curuk asa asup kana sungut sero tea. Orokaya samar polah bingung cabak.
Kagigir digadil katukang dijejek, kahareup dileyek. Ora sambat kaniaya”.
“Abong pepedut nya Man, lain dibubuni mangka tarapti kalah ka dipikaambeu ku balarea. Bangun anu nyari simpati”.
“Biasa weh ka anu saguru saelmu mah”.
“Mangkaning satungtung umur kalakuan sok kawas babu ka nyonyah weh. Jaba nyonyah keur nyanghareupan salaki anu nyandungan, atuh sasatuan letahna brek abus kabeh saabreg abrek ka sungut. Kanyeri kapeurih nyonyah dunguna di terahkeun ka si babu. Lain na mikir, urangna kapan pejabat DKI boga karier sanajang leutik onaman oge. Ari si nyonyahna kapan ngan saukur awewe bau lisung, kajeun lisung emas oge pedah salakina pejabat teras DKI tea.
Mangkaning lakon nyonyah babu kituna geus tungtunggulan taun. Urangna oge geus lila renghap ranjug Mon.
Salaki mana coba anu betah dibaruang lalaunan sina modar leuleus lungse”.

“Mon, kapan kumaneh kanyaho dumeh uingna ari ka si inji mah, matak karasa kagumbiraan hirup, kagedur sumanget, kahudang gairah teh lain bobohongan. Birahi deui teu bobodoan”.
Aduh Man, uing mah nyaho unggeuk.
“Kapan jikan nyaho kapan salila sataun 95%, ari luas leos kapan tiluan bae.
Rek kamana rek wayah kumaha nya tiluan.
Kapan Katana kajeun rek butut kajeun rek belel oge kapan sakitu belana ka urang tiluan, tara istirohah sapoe poe acan. Tapi ayeuna kapan ramo uing kajepit dina sungut sero, kapan Katana oge leuleus deui tanpa tangan pangawasa komo lamun cak Dr. Naek L Tobing tea.
Cindek impotensi sekunder, cenah.

Pos 1 shaum hari ke 14.
Alhamdulillah rindu Allah katut Rasul. Pasasaur asup 2 telepon ti sapada kantor.
Urusanna pasti pesen paket daging.
Jam 0730 dering deui, bet di Dharma Jaya, nanyakeun nomer telepon di kantor.
Nanya oge saha pak Achmad.
Teuing atuh, kajaba lamun si Ayi mah.
Kapan bakda tadarus urang teh hayang ngodean kirining hayang tepung dangu, kajeun teuing bari tagiwur maur oge.
Tapi Gusti. Nuhun Paralun. Jam 0805 dering deuina bet ti si kembang ati.
Tetep aya karasa tineungna mah sanajang bari dijujudes tur gugujes kumaha oge.
Ngan teuing gede leutikna.
Keunlah, sanggeus puasa 16x24+16 jam.
Ngan tamba bau sungut meureun, baruk aya telepon nyasar ti personil City bank.
Panginten haji Yamin atanapi haji Nasir gaduh hubungan ka City bank wae eneng.
Teras nyanggakeun notel NY.
Tapi naha bet langsung nanya nama Siti Amaliah.
Rasanya nggak ada urusan lamar melamar sama pihak City bank.
Laju silih taroskeun khabarna.
Naroskeun oge dupi ibu tos kakantor.
Uing nanyakeun, si eneng tos dugi kamana tadarusna. Sakedap deui khatam cenah.
Ari uing bareng jikan tos ka surat Saba’. Surat nomer 34 sanes? Duka atuh, walerna bari ngaheheh isin beunyeur. Barang rek nutup, kaburu nyelipkeun, maafin bapak ya neng.
“Gimana ya?”. Walonna teuing.
Anu teu kaburu tea ngabejaan, rek majar uing keur kukumpul ka ieu tulisan.

Jam 1355, telepon ngadering.
Singhoreng ti Lia siswi SLTP kelas 2 anu meunang beasiswa ti BTN Cabang Sukabumi Norek 0114.E.003035-B.
“Wa, mamah lagi sakit maag. Tambahin Lia dong 200 aja, buat beli baju lebaran.
Duit mamah cuma buat berobat sajah”. Rayunya merem melek.
“Cukup kitu ditambah 200 buat baju Hilman juga sekalian?”.
“Terserah Uwa atuh mau nambahinnya berapa?
Kalau buat Lia, sebegitu mah dicukup cukupin saja”.
“Memangnya selagi libur nggak ada yang kepingin ke Tangerang?”.
“Kepengen sih Wa, cuma sama mamah suka nggak dikasih”.
“Si Aa dikasih”.
“Si Aa Entis mah kan cowok”.
“Iyalah atuh, duitnya saja dulu ya.
Nanti waktu si Aa pulang mudik, mana tahu ada bekalan baju dari Wa Bedah”.
“Nuhun nya Wa. Udah dulu Wa, Lia punya uangnya terbatas.
Nanti dikabarin lagi. Salam ya Wa untuk semua semoga pada sehat”.
“Iya atuh. Salam Uwa untuk semuanya”.
Agaknya Lia ini teleponnya dari wartel Jayaniti.

“Besok atuh beh. Senin saya mau ke Sukabumi”.
“Kenapa De, kan belum beli baju Lebaran? Mana duit buat beli sepatu make hayoh dikembaliin. Belagu bener sih eluh kayak kagak butuh duit sajah”.
Dasar siah, kukulutus uing mah ngan saukur digaley ku serengehna.
“Jadi yang goban itu mau dipake beli sepatu, apa mau dipake liburan ke Sukabumi?”. Kejarku.
“Ya disimpen saja beh. Nanti diambil 4 bulan lagi, pas sepatu sudah mulai jebol.
Pokoknya kalau babeh mau ngasih saya uang berapa saja, tolong disimpan saja dulu.
Nanti diambil sekalian. Saya mah gampang. Buat ongkos mah minta saja ke Uwa”. Kekehna.
“Nya heuheuh atuh. Nanti kita bareng ke Jayanegara kan si Aa butuh printer.
Bapak mau titip 300 untuk Lia”.

Pos 1. Shubuh hari ke 20.
Melanjutkan tadarus jikan di ‘ain akhir surat Muhammad. Dengan santai kulanjut ke surat al-Fath. Cuma begitu sampai ke ayat ayat akhir, aku mentok. Bacaan aku ulang ulang karena airmata terasa deet disisi panon. Hidung pepat lantas berkali kali ngingsreuk dan melepas umbel di sepotong kain lap yang kebetulan nangkring di sajaddah untuk keperluan pengeringan wajah dan ceruk mata. Agar tidak ada embun di kacamata. Mana wajah Apa Rais ngalangkang terus. Bacaan mulai lancar kembali sejak ayat ke 6 surat al-Hujurat sampai selesai. Begitu bangun aku langsung membuka Tarjamah sambil nanya ke jikan yang tengah memperhati dan sambil nyetrika.
“Kenapa aku jadi begini Mah?”.
“Sugan babeh lagi ingat sama siapa?”.
“Entahlah”. Jawabku sambil mencari arah bacaan pada tarjamah.


Jum’at 7 Des jam 1500 Ade nyoren Lia.
Kusalilalila di jalan, padahal miang di Babakan Jampang jam 0500.
Sabtu 8 Des jam 0800 Ade nampa telepon ti inji, nanyakeun jikan anu karak miang ka Malabar.
Jam 11, jikan 2 kali nelepon balik ka Dukuh, anu nampa mande. 2 kali nelepon ka NY, ari cak Telekom, masih sedang dalam perbaikan.
Jam 1300 jeung jikan miang ka KK, make bus datang jam 1730 geus karumpul iwal ti Aria anu keur itikaf di masjid Pondok Indah. Pon kitu si Aa anu keur ujian tutup semester terus kuliah nepi ka jam 2100. Uing jadi imam Maghrib, Didi imam Isya, Yaya ngaimaman Taraweh. Balik jam 2130
Uud nawarkeun taneuh di Belendung urut imah ibu Imas, 20-eun. Menta dibayar heula dina Rebo10 heula.

Minggu 9 Des jam 10, Juju Miska nelepon di Saketi.
Barang ngabuka HP aya pesen ti Uud.
Jam 13 Uud nelepon ngajak ka Plaju poe Jum’at 21 Des. Overhandle Didi,
Majar Titie Maming datang ka RB sasadu arek ka Plaju pedah Uun hajatan.
Bangunna mah si alo tea nyebutkeun yen mang Eman mau ikut ke Palembang. Atuh Didi kantenan nyanggut somawona Uud. Malah cak Didi mah, Hakim anu bakal ngadaratna oge can dibejaan. Rupana nungguan setuju miluna uing, Mon.

Pos 1, hari ke 23 jam 2300 bersama Lia selesai membaca doa khatam al-Q.
Ramadhan ini tadarus bersama jikan. Lia baru bergabung di juz 29.
Jam 01 tidur. Jam 3 bangun kausik ngimpi. Asa budak keneh koneng begang keur gering. Ari padumukan asa di Kp Baru tapi naha bet aya walungan gede. Ari cak almarhumah Mimih, “Eman, mandi ambeh seger awak”.

Ari cak Ibu, “Teangkeun daun anu hangru di leuweung larangan. Aing nyaho hate maneh keur dinyenyeri. Kajeun engke urang bales”.
Asana uing jung indit bari huhujanan, mipiran kampung gigir walungan. Asa tigujubar kana kalen wadah cai penduduk. Laju ngojay tepi ka tukangeun imah batur. Barang mencat uingna bingung, na timana moncorna. Kapan liang teh pantoan tina cadas. Keur linglung neang jalur asup ka leuweung, uing ngagerentes jero hate “Nggak usah dibales Bu, yang penting balik saja”.
Bet urangna hudang, laju ngageuingkeun jikan.

Pos 1, 9 Des jam 1700, si inji nelepon laju ngobrol ka jikan. Urang mah mani teu dipirosea saeutin eutin acan.
Majar keur sibuk keneh di sakolana.
Ade jeung Lia karak indit ka Lippo arek buka bersama batur SMUN 5. Mekel kupon Wendy’s 4 lembar @ goceng.
Balik jam 2000, hahhehhoh, nyatur batal Wendy, laju buka bakso jeung es teler meakeun 33-eun.
Geus kaasup numpak jet-coaster duaan @ 4 rebuan sewang.

Kugoblok ari ka anu dagang, nangtukeun harega sawadukna bae. Nanyakeun meja komputer di toko urut FM, pajarna 750. Nanya ka urut Didi Donat, majarkeun 225 tapi bisa keneh ditawar.
Ari nelepon ka Global Komputer di 659-7446, majar ukur 50. Untung can meuli.

Pos 1, hari ke 25 jam 0442 selesai baca surah al-Baqarah.
Menta tambahan duit ka jikan 100, arek meuli meja 50eun jeung keyboard 50eun rejeung mouse 40eun pikeun di pos 2 tea. Makesud mah engke bakda lohor arek ka Harco bari ngabuburit.
Tapi dipikir deui kunaon henteu nyoba wae heula ka Harco Lippo Mal Karawaci. Kapan majar pusat perdagangan elektronikna sarua alus pada hargana.
Eta deui majar Lia hayang balik.
Ari Ade mah jigana arek siap wae kana pilakadar nganteur mah.
Inget wae ka mamah jeung Dede cenah.
Atuh nya moal mangloh, saumur kelas 2 SLTP kapan tara jauh di gigir indung.
“Pantes aja kalau Lia homesick”.

Atuh heueuh Ade. Padahal kahayang mah ngajak ngasaan pangsit baseuh di KK, reujeung sugan aya amplop lebaran.
Tapi kapan kuma inyana bae, batan jadi kagegering pikir matak awak panas wae.
“Engke atuh De, sugan bisa di upah apeh. Engke sore urang bareng jeung Wa Bedah ngabuburit di Mal laju buka di Wendy. Sugan weh Lia cenghar”.
Tapinya ya begitu itu, manusia punya bisa Allah punya kawasa. Dak dumadak kurunyung weh Mamo katut Jerry tur Rani. Jaba bari huhujanan rarintik deuih.
Majarkeun mah Jerry jeung Rani hayang diajar abus kana Internet.
Atuh ngadu burit ka neng Wendy na nya laju bae gatot. Sabot kitu jikan karak mulang ti KK jam 1600. Eta ari laporan matak reuwas. Tasna aya anu ngadodet di Tanah Abang. Mangkaning pas kana congo amplop eusi 10 juteun minangka tanda jadi arek bebelendungan. Gusti, upami henteu ditangtayungan kutan baris kahalangan lawon lapis tas, tangtos pun jikan kuring bakal nangis darah.
Sangkilang Uud oge bangun anu perelu pisan tur bakal newak ka KK.
Nuhun paralun duh Gusti Anu Agung.
Bakda buka tur Maghrib Mamo sapiri umpi marulang ka Bekasi bari nyerengeh najan saukur dibahanan ongkos goban.

Pos 1, dinten 30 panutup shaum 1422 H. Hamdalah, dur buka dipapag ku tadarus pas ka al-Q 5 : 71.

Pos 1, 31-12-2001. Jam 1300.
Minantu nlp ngabageakeun taun anyar.
Padahal di Washington onaman, kiwari masih tanggal 30 jam 1 lewat tengah peuting.

Pos 1 31-121-2001. Jam 1500.
Inji nlp bewara arek nongton tutup taun bareng jeung Wiwik. Cenah mah hayang jangjian panggih jeung jikan. Ngan jikan can balik gawe.
Loba nanyakeun si utun, ngan urangna omat omatan peupeujeuh ka jero hate ulah urusan utun ka minantu tepi ka betus ka inji.

Pos 1, 07-01-2002.
Haruh, eta inji mani hahajaan 4 kali nlp

Barongsay1

Dengan mulut penuh kuraih gagang telepon yang bertengger di dekatku.
Sudah 8 kali berdering, tapi tak ada seorangpun yang bersedia melepaskan sendok yang menghantarkan suapan demi suapan makan siang dari nasi bungkus.
Ternyata panggilan tugas rutin, apalagi kalau bukan order dari Polri.
Untuk mengangkat jenazah seorang wanita, yang tergeletak di areal sebuah bus shelter di bilangan Banceuy. Untuk dibawa ke RSUP guna keperluan otopsi.
Segera saja kutinggalkan sisa makan, sambil minum seteguk air.
Lantas mengemasi bungkus nasi, kemudian kumasukkan kedalam tong sampah.
Segera juga kupanggil 2 orang kernet Santo dan Sudi untuk melapor ke mas Soleh seorang staf dari seksi perijinan.
Kukemudikan mobil angkutan jenazah atau yang juga dikenal sebagai kereta jenazah.
Bandung saat ini panasnya bukan alang kepalang. Sejak pagi tadi sampai jam 10 ini, sudah seketel air bening yang meresap kedalam perutku. Di saku atas kiri sebungkus rokok Djarum VIP masih tersisa 8 batang.
Biasanya di hari lain paling tersisa 2 batang, itupun kalau kuhisap sendiri tanpa ada seorang rekan yang ikut numpang heppi.
Sebagai salah seorang pengemudi, di Dinas Pemakaman yang baru berjalan 2 tahun ini. Pekerjaan ini buatku sebetulnya tergolong kasar.
Namun mau apa lagi, namanya juga dinas tugas pelayanan kepada warga kota.
Bukankah dalam kehidupan ini setiap individu memikul tugas dan kewajiban masing masing. Syariatnya memang diatur oleh atasan. Akan tetapi pada hakekatnya inilah guratan nasib, yang musti dilakoni sesuai dengan perjanjian kita di Lauhil Mahfud.
Belum lagi 4 buah mulut dirumah ‘kan musti di disuapi.
Di alam pembangunan ini, yang menghasilkan peningkatan tarap hidup dan pemikiran. Konsekuensi gencarnya pemerintah, memerangi kebodohan dan keterbelakangan.
Hasilnya sudah tampak dan langsung terasa di hadapan kita.
Misalnya dengan mengamati perilaku Cecep Saefudin yang baru kelas 6 SD, bahkan juga sibungsu Cucu Tarwiyah yang baru duduk di kelas 4 di SD yang sama di Ujung Berung.
Berkat kemajuan informasi sekarang ini mereka cepat matang seperti buah karbitan.
Agaknya kalau kurang teguh kendali disiplin diri, bisa saja mendatangkan protes dari kedua anakku itu. Atau didaulat sembari dipunggungi semalaman oleh Eni, istriku.
Aku memang sadar sepenuhnya, biar bagaimana pun aku ini tetap saja warisan budaya bangsa. Di zaman pendudukan kolonial tergolong ‘de natie van koeli’ dengan kehidupan sebenggol sehari.
Apalagi Cecep dan Cucu, selama 10 tahun ini, Lebih banyak tinggal bersama Aki dan Nini nya. Berhubung dengan keadaan kesehatan ibunya.
Ketika sampai kedekat lokasi, aku segera saja melapor ke petugas yang sudah hadir di TKP. Begitu istilah Polri untuk tempat kejadian perkara. Kuberikan tanda kepada kernet untuk mendekatkan kereta ke dekat korban. Kemudian dikeluarkan sebuah usungan untuk keperluan pengangkatan jenazah. Selesai, lantas saja kami berangkat menuju RSUP Hasan Sadikin untuk diselesaikan urusan sebagaimana mestinya.
Dibelakang kereta turut mengantar beriringan, beberapa buah kendaraan pribadi milik keluarga korban. Para pengantar ini tampaknya keluarga berada.
Terkesan dari sosok tubuh yang rata rata subur bagi yang laki laki.
Langsing cantik terawat bagi yang perempuan. Berapapun usia mereka.
Apalagi kalau dilihat dari busana dan asesoris yang dikenakan.
Tinggal lagi, gambar apa yang akan diisikan kedalam amplop yang biasanya diberikan sebagai sedekah jariyah.
Diluar uang sejumlah Rp. 35.000 tarif resmi untuk pelayanan sabudeur kotamadya,
Rp. 75.000 untuk wewengkon kabupaten.
Rp. 575 pkm luar kota atau jarak jauh.
Kalau kata dr. Jo John, pelawak yang lebih beken dipanggil Jojon, gambar monyet ataukah gambar biang monyet? Ataukah gambar gambar yang lain barangkali?
Meskipun terkadang bahkan, boro boro bersedekah, untuk membayar biaya biaya yang resminya saja uangnya tidak cukup.

Saturday, September 25, 2004

Salam sejahtera buat Anda

Kalau kata H Rosihan Anwar, Jurnalis kawakan kita,
"Aku menulis karena aku hidup."
Abah terkesan banget sama pak Haji yang sarat pengalaman unik di Yogyakarta.
Seperti yang tertulis disalah satu penerbitan majalah Tempo.
Makanya abah menjadi suka ikutan menulis apa saja juga.
Silahkan saja mana tahu mau memaknainya sendiri.
"Aku tak menulis lagi karena sudah mati."
Nah Anda, kalau yang ini aseli dari ungkapan sanubariku sendiri.
Wassalam, emanrais.