Tuesday, October 19, 2004

Gliserin buat modal sulapan

Ssst, jangan bilang kepada siapapun. Malu aku.
Dalam kesempatan jamuan bakda Lebaran 2000. Di depan kami, Abah pernah membocorkan rahasia sulapan banjir darah dan paku kepada pak Rohman. Mungkin saja dianya trenyuh. Tatkala mendengar keluh kisah, betapa sulitnya menegakkan disiplin kerja kepada para ‘buaya’.
“Gampang pak Rohman. Untuk darah, beli PK. PK itu kalau tercampur air, warnanya merah bau seanyir darah. Buatlah sekental mungkin. Tetapi jaga jangan terlalu lama di kulit. Nanti tampak hangus. Untuk paku, terserah bagaimana bisa bisa tipunya pak Rohman sajalah.” Kekehnya.
Wajah pak Rohman. Tentu saja kelam biru. Kakak kukuk kikik Itik, tentu saja jatuh berderai.
“Sial, kena isun dikerjai.” Seringai Serangnya terjepit di rasa geli dan rasa kagum yang aneh.
“Tegane sireu meneng bae Tik.” Dengusnya Tetapi kok akhirnya meledak tawanya. Panjang dan pendek. Sampai keluar ingus dan airmata. Rona wajahnya menjadi sulit ditebak kanan apa kiri.
“Ilmu Abah ini memang hebat. Beruntung saya yang juga punya sesepuh seperti Abah. Pantesan. Mama Kiyai, guru saya di Kresek. Cuma tersenyum senyum saja dikulum kulum. Sewaktu saya menceriterakan, bagaimana Abah mencabuti paku santet di tubuh saya.”
Tetapi wajah Abah juga biasa biasa saja, sepertinya tanpa dosa sedikitpun. Tatkala beranjak ke kotak obat untuk mengambil sebuah botol kecil. Dituangkannya sedikit cairan isi botol. Keatas selembar koran, yang sudah digelar di jalanan. Disiapkannya juga seember air dan gayung.

“Lihat ini pak Rohman.” Ditaburkannya sedikit PK, ke cairan yang menempel di balik koran.
Tak lama kemudian koran itu mengepulkan asap putih dan lantas meliuk hangus dilahap kobaran api. Segera juga air di ember disiramkan sampai api padam dan sisa bakaran basah terendam air.
“Kok bisa begitu Bah?” Bengong pak Rohman.
“Isi botol ini gliserin. Dibelinya juga di apotik. Gliserin kalau bercampur dengan kristal PK akan menimbulkan api kimia. Gliserin ini obat sariawan mulut. Terasanya manis. Mangkanya suka dijadikan madu tiruan. Di daerah sejuk seperti di Puncak, bibir dan cuping hidung bisa pecah pecah dan berdarah. Kulit ari kayaknya mengkerut hebat kedinginan. Balurkan saja gliserin ini di kulit yang pecah.” Kata Abah lantas memberikan contoh. Membalurkan gliserin di bibirnya.
Sambil cengar cengir, menikmati rona wajah pak Rohman. Kenceng ibarat combro Kudus hangus. Bukan pak Rohman saja yang terkesima. Kami juga, yang baru tahu akan jurus tipu itu.
“Gliserin juga sangat bagus untuk memelihara kecantikan kulit. Bikin saja adonan sebanding dengan madu. Lantas lulurkan 2 kali seminggu. Maka kulit akan menjadi halus, bagus, kencang dan bening. Belum lagi kalau tercium harum. Terjilat manis. Pasti akan menambah romantis.”
Senyumnya ditutupi dengan satu kerdipan mata. Tampang pak Rohman juga cuma cengenges.
Tetapi anak matanya jelas berbinar. Sudah dapat makan, bisa ngobrol, malahan dapat bonus berupa resep gratis yang bisa bergoyang menjadi bermacam jenis. Mana bisa membuat ‘buaya’ terpipis pipis. Mana bisa membuat istri pak Rohman tampil semakin manis. Paling terpenting bisa dikembangkan, menjadi semakin mendalam menjaring cicis. Tentunya wajah pak Rohman akan semakin kelimis, meskipun berkumis dan jakun yang semakin empas empis.
“Campuran gliserin dan madu kalau ditambah sedikit parutan bawang putih. Bisa digunakan sebagai alternatif untuk mengobati infeksi kulit sekunder yang ringan. Misalnya gatal, kudis, kurap, budug, kesrek. Panu juga idem dito, tetapi sebelumnya dikerok dulu memakai silet. Lalu digosok dengan jahe merah iris. Perih sedikit jamak saja lah. Mungkin juga bisa disembuhkan. Hitung hitung mencari pengalaman dan matang perhitungan.”
Kata Abah sambil memperlihatkan bekas bekas parut hitam di sekujur punggung dan pantatnya.
“I-i-ih babeh. Malu dong yang banyak kenapa. Segala pantak somplak dipamer pamer”

Kalau cuma sakit tergolong ringan seperti flu atau sariawan, Abah tidak perlu ke dokter.
Tetapi cukup merawat diri sendiri, melalui metoda pengobatan alternatif yang di kuasainya atau dengan manja minta dikeriki dan diuruti. Memang juga sih, masa kalau cuma keselomot rokok saja musti ke dokter. Apalagi sampai dirawat segala. George Soros saja tidak sebegitu amat.
Jam 8 pagi di suatu hari Minggu, Abah masih meringkuk berselimut karena maagnya kambuh. Untuk menangani maag, Abah cuma memijat sendiri titik titik tekan di telapak tangan kiri.
Biar memijat sendiri juga kalau terasa sakit, Abah tetap saja merintih atau mengaduh. Melihat pemandangan begini. Biasanya juga Ambu lantas saja tertawa suka suka.
“Nyebut babeh, nyebut dari pada aduh aduhan. Nanti kausap jurig. Sini Ambu yang pijat.”
Tentunya Abahnya tidak mau. Karena biasanya Ambunya suka mengambil kesempitan dalam kesempatan. Untuk balas dendam, akan nyerinya pijatan Abah yang katanya ujung jari berjarum.

Pagi itu Otong sebenarnya tengah bersiap mandi, seketel air panas sudah dituangkan ke baskom.
Dan baru dicampurkan 3 gayung air bak.
Tetapi mandi ditangguhkan, karena kata Ade ada teman yang mau bicara di telepon.
Selagi bertelepon, kudengar namaku disebut sebut dan suara Abah yang bersungut sungut.
Selesai bertelepon, Ambu bertanya.
“Tong. kamu ya menaruh air panas, ke baskom di kamar mandi?” Tumbenan siambu berkamu.
“Iya Ambu. Karena memang mau mandi.”
“Wah sembarangan saja kamunya. Hampir saja proyek gambut sejuta hektar. Di tanjung Kepala Burung siabah di Irja, terancam batal.” Tawanya.
Tidak paham. Sambil nyureng Otong lanjut saja ke kamar mandi. Dipikir pikir juga tidak kepikir. Selesai mandi, Otong nya bertanya kepada Ambu.
“Tadi Abah menyiram tembok di kamar mandi. Ya Bu?” Ambu tersenyum mengangguk.
Wah. Ternyata siambu bisa juga berdiplomasi. Untungnya. Otong juga menjawabnya diplomatis.
Ini mungkin implementasi dari wejangan Abah. Perihal kewajiban ortu sebagai manipulator.
Karena tentunya saja, di air panas kepala burung memang bisa melepuh jontor. Pikirin deh.


Sunday, October 17, 2004

Citra Ikhsan di bukit Pantojati

Semasa mahasiswa FTM Unkris 1968, sodaraku pernah bergabung dengan sebuah organisasi kemahasiswaan dan sempat diplonco. Waktu itu semangat mahasiswa murni berlaku sebagai cendekiawan, meski tetap demam Orde Baru. Pokoknya berderap menuju harapan baru.
Semasa mahasiswa tingkat V FIA Unija, sekali lagi ingin menikmati suasana inisialisasi dengan mengikuti program LDK sebuah organisasi sosial kemasyarakatan. Kapan lagi semungpung masih tercatat sebagai mahasiswa. Rekreasi positip mengisi masa cuti tahunan. Mana tahu ketemu anu, bisa sehat segar ceria. LDK tersebut diselenggarakan di sebuah kompleks SMP di Pantojati, sebut saja begitu. Sebuah kota kecamatan di kabupaten Kuningan.
Pada Desember 1982, mendaftar langsung di kantor pusat Jakarta, sambil menyerahkan perbekalan keperluan pribadi peserta dan jariah seperti yang ditentukan dalam formulir isian.
Meski peserta cuma 25 orang terdiri dari 17 putra dan 8 putri, tetapi rombongan berangkat dalam 2 bus besar dari base-camp. Belum lagi beberapa buah sedan dan jeep, sebagai voor-rijder bersirine dan pengawal belakang di sepanjang perjalanan.
Untuk keperluan berkomunikasi antar kendaraan juga dilengkapi dengan HT.
Sodaraku yang sedang mengkonsumsi obat jantung dan diet dari RSU Tangerang, menjadi terhenyak sesampainya di ‘campo alegro’ di Pantojati.
Makan 3 kali sehari. Porsinya berupa nasi 5 sendok makan dengan 5 ekor teri goreng dan 3 butir kacang tanah goreng. Minumnya teh doang. Semua peserta tidak boleh nambah.
Master de camp mengancam, “Awas tidak boleh jajan apapun.” Hal ini tertulis dalam tata tertib.

Ruang LDK yang mengambil pranata di gedung SMP Cimangsi itu, berlokasi agak di pedalaman. Berjarak 12 Km dari belahan Timur obyek wisata Gedung Naskah Linggarjati dan Balong Gede.
Mengamati lokasi. Campo LDK ini seperti kamp interniran di zaman pendudukan. Karena berada jauh dari pemukiman, dilingkupi persawahan dan perkebunan dan dekat ke hutan lindung. Untuk mencapai lokasi ada 3 jalur jalan desa yakni jalur Dayeuh, jalur Kali Aren dan jalur Cimangsi sebagai kloaka dari jalur Gibug dan jalur Mandirancan. Kecuali berjalan kaki atau kendaraan pribadi, tidak ada kendaraan umum yang melintasi 3 jalur itu. Kendaraan umum hanya melintasi jalur Gibug dan Mandirancan. Pemilihan lokasi memang jitu. Karena siapa pula ‘tawanan’ yang mau melarikan diri. Berjalan kaki dengan resiko tertangkap di siang hari. Apalagi di malam hari, yang beresiko ditangkap macan kumbang atau kawanan lagog yang suka menerkam ternak tetangga hutan lindung. Seperti alam Kuningan, bukit Pantojati ini juga sejuk asri, dengan planologi warisan dari zaman kolonial. Kota yang berjarak 6 Km dari jalan raya propinsi di Cilimus ini dipagari pepohonan dan persawahan. Di areal ini tersedia tempat tempat peristirahatan dan pemandian alam geo-thermal Sangkanhurip.
Pelaksanaan LDK, dipusatkan di bangunan tengah kompleks dengan fasilitas auditorium, kantor, ruang guru yang dijadikan masteriat dan masjid. Kantor sekolah dibiarkan tidak terusik.
Lokal penginapan peserta dan pelaksana juga diatur. Peserta putri berposisi di deretan kelas, di sayap kanan belakang. Master dan senior di sayap kiri dekat dapur dan kamar mandi umum. Berada diantara keduanya di deretan bangunan belakang. Pelaksana dan peninjau ditempatkan di sayap kanan depan. Peserta putra di sayap kiri depan. Selain tersedia sebuah jeep dan sebuah sedan untuk keperluan transportasi. Di masteriat terpasang juga perangkat radio CB mode LSB untuk berkomunikasi dengan base-camp di Jakarta dan kantor kantor cabang.
2 hari pertama dari 7 hari LDK, lancar lancar saja. Maklum masih dalam masa adaptasi orien tasi antara sesama peserta dan kepada pelaksana. Sambil menebar senyum kepada penduduk sekitar yang tampak melintas ke kebun atau ke sawah. Atau wanoja yang pulang belanja. Meskipun ternyata aksi tebar senyum pun dilarang. Padahal kan cuma menebar umpan berkail. Sugan beuteung seubeuh duit weuteuh.
Agaknya karena perencanaan kegiatan, maka di hari ke 3 suasana kampus mulai rancu. Jadual acara yang dibacakan pada waktu seremoni pembukaan tampaknya dilanda tetelo. Di campo terlalu banyak personil pelaksana, yang tampaknya pating emosionil petentengan.
Maklum saja pelaksananya mantan peserta tahun lalu yang masih panas tersengat demam mapram. Kecuali master dan senior, meski berusia muda tingkat akademisnya bisa 3 atau 4.
Apalagi kalau dipanasi aksi para peninjau yang mungkin saja anggota cabang. Atau mungkin juga para mojang setempat yang terkesan.
Di Kuningan ini payung ayu umumnya kuning atau putih. Meski ada juga berkulit gelap.

Inilah kisah peserta yang kena tunjuk ketua. Dianya kayaknya stress. Mana kurang makan, mana udara dingin, mana hujan terus menerus, mana terkena flu, mana jauh dari elusan hangat. Kena tunjuk sebagai KK patsal 2 ayat 2. Karena agaknya tergolong senior, baik karena tingkatan akademis dan uban. Tugasnya juga tidak ringan, terutama momong 8 peserta putri. Asyiknya pada bisa dijadikan selingan, maklum saja karena pada remaja kolokan.
Belum lagi ulah para pelaksana muda yang merasa berpangkat rata rata field-marshal itu.
Merasa senior dianya menjadi judes lantas ketus, senantiasa siap membela kepentingan peserta di tengah ganasnya perilaku infantil pelaksana. Kalau peninjau berlaku buas maka oleh dianya langsung saja ditindas, dilindas di endas endas. Tentunya wajah pelaksana sepenuh dendam.
Wahana LDK ini idealis dan penuh rekayasa dendam, dicomot dari sisa praktek mapram.
Bukannya membekali peserta dengan ilmu ilmu ekstra kurikulum yang diintisarikan dari pengalaman dan ujicoba para instruktur. Tetapi juga dicoba untuk dicekoki dengan tetekbengek petualangan dan ide ide ekstrim. Mencoba menampilkan suasana perjuangan rakyat Palestina, Iran atau Libya. Peserta diajari hidup spartan, makan catu porsi yang sekedar agar tercatat kalau peserta diberi makan saja. Yang namanya kesehatan apalagi gizi, harap maklum saja dan terimalah nomor urut 100 saja. Pemerintah dan GBHN salah semua. Tugas organisasi adalah berjuang agar Islam sebagai azas tunggal menggantikan Panca Sila. Yang jauh menyimpang dari AD/ART. LDK juga dijadikan sebagai ajang ujicoba ide mengkutak kutik komponen SARA.
Sebagai PNS, sodaraku juga merasa terpanggil untuk ikut bicara sebagai jurpen pembangunan. Dianya sering menjadi pelontar interupsi, yang dimanfaatkannya menjadi ajang orasi tandingan. Untuk urusan retorika tentunya andalan kelas. Master tentu saja mengomel panjang pendek. Dianya juga sering mengusulkan perubahan tata tertib. Yang dianggap sudah disahkan pada acara pembukaan secara sepihak, egoistis, teroristis, sewenang wenang, sak enake udele dewek. Dianya juga suka melakukan walk-out, apabila terjadi polemik dan silang beda pendapat.
Lebih hebat lagi dianya merasa punya andalan. Gara gara master merasa keberatan, ketika sodaraku memberitahukan akan mengundurkan diri.

Malam ke 5. Di tengah udara dingin dan hujan deras, mana tidur cuma beralaskan sehelai tikar tanpa bantal. Dianya mendengar suara cekikikan dari arah auditorium. Dianya lantas membangun kan 10 orang peserta yang tidur selokal. Dengan bersenjata seketemunya, ada batu bata, ada batu kali ada potongan bambu, ada dahan kecil. Lalu mengendap mencari sarang ‘kuntilanak’. Dari koridor tak ada orang di lokal peninjau putri, kecuali tampak hamparan kasur bantal dan selimut di atas bentangan tikar dan karpet karet.
2 orang menyelidik ke lokasi ‘harem’, sebutan bagi lokal sayap kanan belakang.
Ternyata suara kakak kikik itu berasal dari arah dapur. Dari tirai kawat ventilasi, terintip 2 pasang anak muda tengah asyik bersenda canda sambil ngopi ngeteh ngacang di lantai dapur.
Dua putri (sebut saja begitu), yang satu berkatopong menjerit kaget. Tatkala tiba tiba pintu dapur yang di slot itu terkuak beringas, tetapi bergerit berdebam dibelakang tertiup angin kencang.
Dua putra (sebut juga begitu), anggota pelaksana tampak tak senang. Tetapi kemudian menjadi tegang tatkala menyadari kami juga bersenjata. Setelah memberikan isyarat, dianya lantas saja menggelontorkan pepat hati dan nyapnyap.
“Apa sih yang ada dipikiran kalian dan contoh apa yang akan kalian berikan? Kalau kelakuan kalian saja tidak Islami, yang tak patut ditiru.” Sikato lantas bersuara sopran bersikap galak. “Heh, maneh teh tahu aturan henteu. Tahu tata tertib tidak. Mendobrak pintu seperti rampog saja. Dasar kampungan. Kamu tahu tidak kalau kalian ini makan dari harta amanah umat.”
“Memangnya kalian ini dua pasang suami istri?
Coba tunjuk yang mana mahram kalian?”
Tuntutnya kepada dua putra, tetapi diam saja.
Salah seorang putri minggir mengkeret, ketika dianya beranjak mendekatinya temannya.
“Kamu ini berkato, tetapi kelakuan kayak gongli gatal saja. 2 pasang lawan jenis cekikikan kayak jurig dan kuntilanak. Di dapur sempit dan remang. Mana bukti cendekia dan imtaq kamu?” Dianya menyuruh 6 peserta masuk, lantas keluar sambil menjinjing 3 dari mereka untuk dibawa ke lokal penginapan master dan pemuka LDK. Dianya lantas kembali ke dapur mendekati tulak pinggang sikatopong. Tampak asyik, terpojok di dekat kompor. Kembali pintu berdebam ditutup angin. Seketika katopongnya rontok saja.
“Memangnya mau kamu apa? Kalau aku bilang kepada master. Dijamin kamu akan ..ep..ep ep.”
Tersiar raungan lembut, disela suara tersedak biji salak. Terputus putus. Lantas berubah dan menjadi keluhan terisak.
“Lagi? Suka ya?” Tekannya agak kasar. Sikato terdiam. Lantas dianya menuangkan segelas teh manis panas dari sederetan termos yang telah tersedia. Digenggamkannya gelas.
“Minumlah perlahan”, bujuknya separuh maksa.
“Dari 4 orang kalian cuma kamu teh yang paling Islami. Pakai kato, meskipun berkaos dan ber-jean juga. Apa teteh tidak memikir resiko? Teteh asli Pantojati kan? Bapak Ibu juga? Minta alamat buat nganjang ya? Boleh ya?” Bujuknya.
Kato itu mengangguk saja, agaknya menjinak meski tampak ruwet pikiran. Entah sadar, entah malu, entah takut, entah seram, entah syaraf. Mungkin juga membayangkan resiko mesum perkaosan. Tetapi lantas gutrut saja menulisi kertas dengan sebuah ballpen yang disodorkan.
“Tadi sore di saat ada makanan spesial, jujur saja aku ini sering meliriki keindahanmu teteh.
Posturmu, suaramu, wajahmu, sikapmu yang lembut keibuan dan nikmatnya nasi uduk hasil pasakanmu. Alangkah sakitnya hatiku sekarang. Takut melihat kenyataan kalau teteh ini ternyata bukanlah wanoja idaman.” Sikato itu tertegun tegun, tertungkul jambon. Sambil meresapi semaraknya gelas di tangan dan sisa manis teh di mulut. Tampak samar sedikit pentil senyum, berbaur bentolan kecil memerah yang suka di elus dan sering di usap. Di sudut kiri bibir bawah yang mungil. Di bawah nanar sorot tatap puber remako. Tanpa lipstik pun bibir itu tampak merah segar. Di raut wajah rupawan yang kuning langsat. Direbut gelas lantas perlahan direguk sisa teh, di tengah nanapnya segelombang tatapan risih.
“Ayo kita ke master”, bimbingnya sambil menghangati telapak tangan kanan sikatopong.
Yang terasa dingin dan berkeringat lembab. Entah karena cuaca dan hawa malam yang dinginnya membuat gigi gemeletuk sembab. Entah juga karena sutris atau merinding demam disengat meremang cambang mawas. Menaunginya dari dinginnya hujan lebat dengan payung lebar. Dikintili oleh kikik kukuk 4 orang peserta LDK.

Di penginapan dan masteriat, kembali terjadi perdebatan sengit. 2 putra itu sekarang sudah pulih semangatnya dan merasa sudah tumbuh lagi giginya.
“Dasar kambing kalian. Tadi kalian diam saja. Sekarang kalian mau menjilat pantat master ya.
Ingat, apa yang terjadi malam ini. Akan aku laporkan kepada pengurus pusat, cabang Kuningan, cabang Jakarta dan ranting peserta.”
“Kami kan cuma ngobrol suka sama suka. Mereka kan juga bukan anak kecil. Tentunya peristiwa itu bukan cuma tanggung jawab kami.”
“Rugi nian kamu Teh, berteman sama serigala bertopeng musang ini. Penjilat dan pengecut. Asal bawah perut ngusial lantas pada gede kentut.”
Ribut ribut itu juga mengundang kedatangan 10 orang peserta lagi. Mereka langsung saja minta agar master mengambil tindakan tegas. 2 pelaksana muda itu disuruh pulang ke Jakarta besok pagi. Dua peninjau putri diminta pulang kerumahnya masing masing dengan diantar oleh anggota keamanan dari panitia pelaksana.
“Terserah kepada dua kambing ini. Tetapi aku minta agar 2 putri ini tidur di lokal penginapan.
Tidak Islami wanoja berkato keluyuran malam. Entah bagi yang suka kakak kukuk telembukan. Lagi pula kalau wanoja ini pulang, kita mau makan apa? Mengingat amalnya, seharusnya dua putri ini dilindungi. Bukannya keramahan malah diselewengkan untuk bermacam macam. Ini 2 nama peserta bersamaku, mengawasi dari lokal antara lokal pelaksana dan lokal peninjau.”
Awalnya tentu saja master mana mau. Tetapi terpaksa menyetujui. Meski berat hatinya. Tetapi daripada dianya mengantar dan melaporkan teh Kato keorangtuanya. Lalu mabur ke Jakarta?
Urusan lantas diharap selesai sampai disini. Sesama peserta berbisik bisik mengamati dari belakang, tatkala neng Kato lantas menjadi jinak tersipu. Menjelang berbaring di lokal berkasur, terdengar dianya bersenandung fals. Bersuara bass bergaya Sam Saimun.

“Di wajahmu kulihat bulan.
Bersembunyi di balik senyuman
Sadarkah tuan, kau di tatap insan.
Yang haus akan belaian.”

Masak sih neng Kato di lokal sebelah, tidak meresapinya. Entah benci entah seni entah seuri.
2 kadet taruna LPU saja nyeletuk mesra, “Pak, bapak kayaknya remako yang sedang jatuh cinta deh. Bagi bagi kami ilmunya dong pak.” Hehehe, kapan yang tadi itu ilmunya.

Sesudah terlebur segala gundah
Sesudah terpendam segala resah
Sesudah terhanyut segala yang kusut
Yang kubawa dari sana, yang musnah disini
Sungguh terasa ringan di hati
Yang ada tinggal kerinduan, kepadamu wahai permata
Kepada siapa yang sedang kutinggal dengan titipan amanah
Yang di dirimu tergumpal segala harap dan damba
Dan yang sudah kita lakukan segala usaha dan coba
Yang tertanam bauran rasa dan gemerlap cinta dan kegalauan sukma
Dan warna warna hangat di lubuk jiwa
Kalau dulu aku mati kini aku mau hidup lagi
Kalau dulu aku lari kini aku mau kembali dan tak akan lagi pernah lari
Kalau dulu aku pergi kini aku datang dalam cinta
Untukmu untukku untukmu untukku, untuk kita
Yang ringan di dada yang ringan di suksma yang ringan di jiwa
Walau masih ada yang terasa sebagai sisa sia
Yang aku percaya, bersamamu derita itu akan musnah

Ada yang bilang kalau nur itu ada tantangan menjadi nyata dan aku bilang nur itu ada apapun tantangannya
Aku sedia apa saja, aku berani apa saja, aku terima apa saja untukmu dan untuk bahagia
Buat apa hidup dalam bayang
Buat apa hidup dalam galau
Buat apa hidup dalam kacau
Buat siapa, buat dia?
Maka pergilah dengan dia dan setan akan tertawa
Buat apa, buat neraka?
Maka pergilah dan iblis akan bersuka cita
Aku mau hidup buat damba buat citra buat warna buat rasa buat cita cita buat rama rama
Yang di hati bersemarak yang di dada mengorak
Yang dalam senyumanmu aku bersanjak
Kalau sudah lepas derita biarkan dia pergi
Kalau masih sisa derita kita halau biar dia pergi
Aku mau angin surgawi, tetes berahi, alun nafiri, sosok insani
Yang kutemui hanya pada kau dan untukmu aku datang
Yang gundah yang resah yang kusut
Biarlah musnah disana
Maka ini aku datang dalam gemerlap dan warna hangat di lubuk jiwa
Peluklah aku untuk kurengkuhkan engkau
Dan tak ada lepas lagi
Dalam dan satu
(Citra Ikhsan)

Nyambung nih ya. Ceriteranya kendati dianya itu tukang protes, tukang interupsi, tukang membantah. Pernah menggedor jidat anggota pelaksana dengan palu sidang. Pernah mencela seorang penceramah dari HIPMI yang ngotot, istilah Trail and error darinya ogah dikoreksi menjadi Trial and error. Pernah membikin merah penceramah dari IPB. Yang materi dagelannya 2 bulan tugas belajar di Rumania lantas ganti agama dari Islam ke Kristen. Nilai karya tulis selalu 2 atau 3. Hasil sidang dari tes terakhir. Dinyatakan goblok. Tergolong trouble maker, koppig, provokator dan agitator. Tak urung. Pada saat acara judicium dan pelepasan di base-camp Karancang. Aneh. Dianya kok dinyatakan sebagai peserta terbaik. Cuma saja dianya memang berniat tidak hadir. Karya tulis yang diminta. Juga cuma sebanyak 7 halaman dari 10 minimal. Yang padat berisi cemoohan dan koreksi atas peristiwa, yang terjadi selama masa LDK. Untuk equalibrium. Diungkapnya teori retorika dan teknik persidangan. Mana mungkin bisa diperoleh di FIA. Minus tematis Kato, tentunya saja dong. Linglungnya karya tulis amburadul itu, katanya justru tunggal diorasikan di atas podium. Oleh wakil sekretaris panitia pelaksana. Hingga saat ini. Sertifikat LDK, yang menjadi syarat agar dapat mengikuti LLK tidak pernah diambilnya. Tetapi dianya musti hadir dalam pelaksanaan reuni di gedung auditorium LPU Curup. Sekali lagi. Suara bassy Sam Saimun, didaulat untuk berkumandang diiringi band taruna LPU. Saat pulang bersama siteteh, dianya cuma cengengesan. Ketika banyak mantan peserta yang menanyakan kok aku pulangnya memisahkan diri. Sekalian mudik ya? Mampir kerumahnya neng Kato ya? Huhu dasar anak muda suka pada beseran sajah luh. Juga peristiwa sekitar katopong jontor dan seputar suara misteri kodok ketelak biji salak.
“Aku cuma menggunakan jurus kuno kok. Sambil menyelam minum air, gigit ikan, tangkap katak berontak. Sambil menjaga agar tak dipagut ular. Apalagi disambar buaya. Berbahahahaya.”

Aku kadang bertanya dalam kaca
Adakah aku wayang, adakah aku dalang
Di atas pentas kehidupan
Kalaulah aku wayang aku ingin bertanya
Adakah aku arjuna, adakah aku rama ataukah rahwana
Yang mencuri shinta atau shinta ku takut dicuri
Kalau aku dalang adakah aku shri kresna ataukah yama
Yang dalam bhagawad gita, merdeka citra utama
Aku kerap bertanya pada diri
Adakah aku badut atau lawak
Yang kalau lucu sendiri tertawa sendiri
Yang di atas pentas sepi aku sendiri, saja
Sebagai musafir jiwani
Yang gentayang di alam rohani
Yang kukira padam tak pernah padam
Yang kukira diam tak pernah diam
Ternyata dalam, dalam semakin kelamnya malam
Yang hanya ada bintang dan kunang kunang
Dan kerabu yang berpendar dan kilaunya gigi mas
Tuhan
Kuhadapkan mukaku kehadliratmu
Kugapaikan tanganku, kukoyakkan dadaku dan desahan napas
Kutampar mukaku sampai merah pipi dan mata
Dan hidung yang pepat dan sumbatan airmata
Dalam geletar daging dan geletar urat darah
Dalam erangan, dengan erangan, dan erangan, dan deraan
Tuhanku
Untuk manusia tak berdaya ini adakah cinta itu manfaat atau mudlarat
Untukku adakah semua ini mimpi atau khalwat
Kalau kutusukkan pedang di dada, adakah rasa ini nyeri atau mesra
Kalau kukoyak daging ini, adakah ini derita atau ekstasa
Kalau ini bahagia mengapa harus ada airmata
Atau adakah ini airmata bahagia

Tuhan
Bimbinglah kami padukan kami dalam buhul tali kasih
Sentuhkan nur mu pada piala ini
Beri ijinmu beri rahmatmu beri karuniamu
Turunkan waktumu kedalam paduan
Dan turunkan juga kepastian, ya Rabbi
Jangan biarkan kami berjalan dalam gelap dan samar rasa
Jangan biarkan kami hidup dalam gundah dan samar polah
Meski telah karuniai kami tetes tetes rasa dan indra
Dan tidaklah kami terpanggang dalam onak dan duri
Tuhanku
Kami ingin punyai artinya kami
Janganlah kami jadi wayang atau dalang tanpa arti
Kami ini insanmu, yang dalam kelopak dan putik bunga kuncup di pagi hari berguguran di siang hari
Yang dalam bokor madu hayati kata kami
Darimu ya Allah darimu ya Rabbi
Untuk kami yang dalam kesabaran untuk kepastian
(Doa)

Santetbrahma1

Ceriteranya. Di suatu Minggu pagi 1994, Itik dolan ke bengkel. Mengajak teman peserta latihan Taekwon-do yakni Tubagus Rohman Yasin, BA. Pak Rohman paruh baya ini, seorang sarjana muda IKIP. Asli pendekar Banten, yang rajin berguru dari Cirebon sampai ke hutan Lampung.
Body nya saja jelas pendekar, pendek dan kekar. Beliau juga ahli pengobatan kebatinan. Di lingkungan rumahnya sebagai ketua pemuda. Profesinya selain seorang Wadan Satpam yang kemudian naik pangkat menjadi Danpam. Beliau juga nyambi sebagai naib di KUA. Pokoknya disegani bahkan kabarnya ditakuti. Istrinya juga seorang ustadzah. Beranak tiga. Si sulung Yayang paling cantik sendirian Kalau kata Itik, pak Rohman ini terkesan betul akan cara. Tatkala abah menegur Itik sewaktu bertingkah seperti bandar kambing dolly itu. Sudah lama ingin kenalan, meskipun sulit mencari peluang di tengah tuntutan tugas siang malam. Namanya saja seorang kapitein, yang selalu bawa barang panjang. Gegendir karet. Tetapi jangan lupa, niat perkenalan di antara sesama orang berilmu. Biasanya juga dilambari hasrat pamer ilmu, ngadu jajaten, cari ilmu. Atau menurunkan ilmu. Maklumi saja jawara. Tatkala berkenalan, pak Rohman tampil keren bersadaria dan berpangsi sutra hitam. Bergesper lebar haji. Berkopiah beludru biru, yang samar mengeluarkan harum kesturi hajjar-aswad.
Maklum saja di bengkel, penyambutan pun apa adanya kalau tidak disebut asal jadi. Dudukpun di atas tikar, beralas karpet karet alas kerja. Jabat tangan formil serasa agak berpasir. Sorot kuning anak mata macan dalam menghujam. Bibir senyum setengah unjuk gigi. Sederet gigi atas tambah berjejer rapi, dari taring kanan ke taring kiri. Sayang abah sudah tidak bisa unjuk gigi.
“Maaf bah, badan saya pegal pegal dari tangan sampai ke leher. Kata Itik, saya agar mohon pertolongan abah.” Ungkapnya merendah.
“Wah pak. Mintalah pertolongan hanya kepada Allah SWT saja. Saya bisanya cuma membantu. Kalau bermanfaat Alhamdulillah. Kalau tak ada manfaat sebelumnya saya minta maaf, karena pijatan saya biasanya mendatangkan rasa nyeri.” Jawab abah tak kalah kerennya. Lalu observasi dimulai. Jurus prognosis dikeluarkan. Pasien termanggut manggut puas dan senang.
Tapi entah bagaimana, rasa jail abah naluriah kok muncul. Mungkin juga tidak tahu, kalau pak Rohman itu juga teman tae-kwon-do anaknya.
“Maaf, harap pak Rohman jangan kaget. Pegal pegal di badan bapak itu karena santet brahma.” Kata abah sambil menekan kempolan pak Rohman yang lantas saja seketika melesat kaget. Lantas saja terdiam merenung. E-eh lantas juga menceriterakan mimpi seramnya, 3 malam yang lalu. Abah lagaknya manggut manggut, padahal memang tidak faham makna mimpi apapun.
“Kalau begitu saya mohon bantuan abah.
Sayanya ini harus bagaimana?”
“Kalau begitu sediakan saja 3 bungkus rokok samsu dan segelas besar kopi pahit. Kalau pak Rohman mau, biar Itik belikan sekalian. Itik, tolong suruh Awong untuk membeli 5 nasi bungkus. Abah lapar nih. Kita makan sama sama ya pak Rohman.”

Awong itu seorang remaja gunung yang dibawa oom Ian dari Jasinga. Di hutan gerakannya sebat dan gesit. Enteng saja dia berlari diantara akaran pepohonan, menginjak bebatuan gunung gundul licin berlumut. Merayapi batang pohon, naik dan turun selincah monyet. Dengan mata beningnya, enak saja Awong dengan senapan angin Canon menembak kepala pipit dari jarak 50 meter. Atau menembak jatuh buut yang tengah berlarian diantara rimbunnya daun pepohonan. Lidahnya juga lancar lancar saja mengunyah tando panggang yang dagingnya berbau amis atau peusing bakar. Ular sancapun digeragoti. Percaya deh pokoknya Awong itu manusia alam. Meski di kota sikapnya malu malu, seperti kampret terpukul sebatang buluh perindu.
“Ini Tik uangnya dan sekalian tolong belikan 2 bungkus GGF Super 16.”
Sambil menunggu Awong, pak Rohman diminta membuka sadarianya dan bersila di tikar. Di bawah pandang supervisi oom Ian dan Itik. Lantas diurutinya seluruh bidang punggungnya.
Sebuah kaca muka setengah badan, ditaruh menyender ke tembok di depan pak Rohman. Sebuah lagi di belakangnya, dipegangi oleh Itik.
“Maaf, saya akan sembur badan pak Rohman.”
Abah meneguk air bening, berkumur 3 kali lantas menyembur 2 meter dari arah kepala Itik.
Pak Rohman tambah terkaget kaget. Tatkala dari bayangan kaca di depannya. Panorama embun semburan air di badannya. Mengalir warna dan amis darah merah kehitaman. Apalagi sesudah abah menggeser geser posisi kaca belakang.
“Jangan pegang.” Seru abah tatkala melihat jari pak Rohman mengarah ke lekuk di pinggang nya. Pak Rohman lantas dituntun kekamar mandi, di suruh jongkok dan dibanjur saja kepalanya. Eh lupa. Pangsi dan kolornya. Apa boleh buat kalau terpaksa ikutan rambutnya berbasah kuyup. Pak Rohman lalu disuruhnya saja mandi sekalian. Abah kemudian meminta Itik menyediakan handuk dan menunggui pak Rohman di pintu.
“Babeh, babeh.” Terkagum kagum sorot mata Itik sambil geleng kepala.
Sementara pak Rohman mandi, abah merendam 15 batang paku 6 senti karatan.
Ke dalam cawan berisi oplosan minyak sayur dan parutan bawang merah. Minyak yang biasa digunakan sebagai pelumas untuk mengerik atau mengurut. Dicampuri dengan lanoline obat rambut. Diperkaya sedikit oli Omega yang hitam pekat. Sambil berbisik apa yang akan dilakukan. Oom Ian cuma mesem mesem nyengir bajing. Tetapi Itik itu lho. So pasti beser terkikik kikik.

Selesai mandi pak Rohman diminta tengkurap. Diletakkan sebuah piring logam di dekat telinga. Kemudian punggungnya dibaluri minyak urut yang memang tersedia dalam botol bekas Sprite. Dibalurkan juga selapis Sloan liniment. Lalu digosok dan diurut melebar dari pinggang mengarah ke leher. Kaca di depan pak Rohman lantas dipindahkan ke meja kerja dibelakang.
“Saya mulai ya pak Rohman. Hey Itik, Ian kalian jangan ribut. Konsentrasiku bisa pecah.” Di luar Itik memang masih tertawa tergeli geli. Di ujung setiap selusuran disekitar leher, dengan kuku jempol kiri abah menggurati tengkuk atau leher pak Rohman. Pergerakan kaku tangan kanan. Nafas mendengus pelan. Berhati hati dan mengejan. Seperti membetot buntut macan.
“Nah, lihatlah modal celengannya pak Rohman.” Kata abah sambil menjatuhkan paku berlumur minyak, yang berdenting keatas piringan.
“Orang itu kalau mau menyantet, mbok ya pakai paku emas. Bakal ngantri orang buat minta disantet.” Seru abah sesumbar, lantas berderai tawanya seperti ketumbar.
Pak Rohman mungkin terkesima dan terbengong bengong, makanya diam saja memandangi sosok paku di piring baja tutup fan motor listrik 30 PK. Kemudian beruntun denting demi denting paku berkarat jatuh kedalam piringan setiap 5 menit.
Pencabutan dihentikan selepas denting paku ke 11, tatkala terdengar suara Awong terengah engah menyapa Itik. Cacing perut abah langsung pada berjoget
“Tik, kamana si babeh. Euweuh katembong?” Abah lantas bangun, lalu menyambut gelas kopi pahit yang disodorkan Awong. Lantas beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan tangan. Sisa 4 paku berminyak dan sekantung plastik kristal PK, tentu saja sudah aman disembunyikan dari pandangan pak Rohman. Ketika kembali, tampak Awong tengah terheran berbincang dengan pak Rohman, yang sambil tetap memandangi dan merenungi isi piringan.
“Selesai ya pak Rohman. Semoga sudah bersih.” Kekeh abah langsung ditelan saja oleh pak Rohman. Kemudian kami ber 5 makan bersama. Roman pak Rohman tetap sepenuh tanda tanya. Kunyahannya perlahan yang diperkaya dengan renungan. Sampai bergoyang riuh kepedasan, dengan terkeremusnya sebutir cabe rawit Meksiko.
“Nah. Tanghiii pak Rohman, tanghiii.” Seru abah. Agaknya tak kuat mental. Selesai makan pak Rohman berceritera. Betapa dia sering menahan ‘tembakan’ para anak buah. Menghadapi kolega dan karyawan yang memang bermental ‘buaya’.
“Ini buktinya.” Keluhnya. Sambil menunjuk 11 paku di piringan baja, yang kini diawuri garam.
Awong yang anak ingusan, tentunya semakin terkagum terlongong saja kepada si babehnya. Pak Rohman masih bengang bengong, tatkala bakda Ashar pamit untuk bersiap tugas jam 19.
“Babeh babeh. Suka sembarangan saja si babeh mah.”
Lantas Itik menceriterakan, siapakah itu pak Rohman sebenarnya? Sekarang giliran abah yang terkaget kaget dan terbengang bengong. Ibarat yang mau pergi kondangan menginjak gituan. Abahku itu terkadang ibarat berburu ke padang datar, dapat rusa belang kaki. Menjadi guru yang kurang ajar, merusak bunga kembang tak jadi.

Saturday, October 16, 2004

Gadiskecil1

Bisnis kecil2an? Tentunya dong aku mau buat nambahin ongkos kuliah Ade.
Makanya jadian janji temu di KK. Lia akan datang bersama teman laki untuk memberikan prospek teknik, pada 25 Sep 2004 jam 11-12.
Aku lalu bersiap untuk berangkat.
Ambu mengingatkan untuk nyarap dulu.
Aku jawab, “ Iya ya mau tuh, tapi secentong aja pakai kecap.”
Sedari kecil aku memang hobbi kalau sarapan pakai kecap.
Apalagi kalau sambil ditemani seceplok telur matasapi atau seiris rendang gepuk.
Tapi kali ini ambu menyodorkan sepiring nasi dengan semur kacang merah yang dipasak kental. Sambil mengunyah aku merasai adanya serpihan daging kambing.
Saking enaknya aku malahan menambah dan betul saja di mangkuk semur aku menemukan seguruntulan daging kambing.
Saking enak makan, sarapanku kayaknya berubah menjadi makan pagi deh.
Akhirnya aku siap berangkat.
“Jadi babehnya mau kemana?”
“Aku mau ke KK. Lalu ambil GP-88 ke Cileungsi. Lalu ke Citeureup.”
“Bawa salin tidak?”
“Entahlah akunya juga ragu. Ke Cileungsi Ian sudah ngasih khabar jelek. Salah satu HT nggak jalan, Nanti akunya emosi. Ke Citeureup aku nggak tahu bagaimana keadaannya.
Nanti mas Narso banyak mengeluh akunya menjadi puyeng lalu gak bisa tidur.”
“Ya udah jangan maksain. Kalau memang sudah janjian, ke KK saja.”
“Iya lah kita lihat gimana nanti saja.”
Ambu lalu memberikan bekalan 250 ribu.
Tapi aku masih minta seceng buat sekedar ongkos angkot ke Cisadane.
Ambu sudah biasa memberikan bekalan yang memadai karena sering terjadi aku melakukan lompatan mendadak saja.
Kan kalau tak terpakai juga aku selalu mengembalikan lengkap dengan rincian.
Naik R11 duduk dibelakang menemani seorang ibu muda yang tampaknya sedang bergeli entah tergeli hatinya.
Entah lagi dapat pengalaman menarik, entah juga lagi digodain sama supir.
Di perempatan Palem penumpang depan turun, aku lalu pindah menjajari supir.
Dibelokan Cemara perempuan tadi turun masih dengan bibir yang lagi menahan senyum. Semoga saja dianya lagi beroleh khabar gembira dan bahagia.

Selagi jalan tiba tiba supir menyodok kanan lalu memepeti angkot yang datang berlawanan arah. Apa lagi kesal dianya karena sesiang itu penumpang angkotnya cuma tinggal satu orang saja, aku.
Supir menunjukkan telunjuknya kearah lawannya lalu sambil tertawa, teriak.
“Entar luh. Ntar luh.”
Eh rupanya sedang berseloroh, yang langsung dijawabi temannya sambil melotot.
“Mau macam macam luh sama guah.
Ntar guah kempesin ban luh empat empatnya baru nyaho luh.”
Sambil perlahan melanjutkan jalannya karena dibelakangnya angkot yang lain mulai koor klakson tat tit tut tet tot.
Mendekati SMPN 6 naik 4 penumpang.
“Kalo rezeki mah nggak kemana ya pak.” Kekehnya.
“Atuh iya jang. Rezeki kita mah sudah ada Yang Maha Mengatur.
Kalau kata Aa Gym kitanya tinggal petik.
Asal kitanya mau setiar ajah.”
Jawabku perlahan. Dianya tersenyum meliriki.
Kayaknya senang dengar aku menyebutkan kata setiar.
“Betawi ya?” Iseng saja aku bertanya.
“Kok bapak tahu aja nih.”
Gelaknya ringan.
“Tampang sama logatnya Betawi kota.”
Kekehku sembari membakar udud.
“Apalagi tadi kalo lagi ngancem, pake nyebut entar luh entar luh.”
“Wah bapak bisa aja.
Orang becanda sama temen kok.
Sayah bukan Betawi Kota pak” Tawanya.
“Iya bukan Betawi Beos, tapi bukan juga Betawi Ora kan?”
Dianya berkekeh seraya meminggirkan mobil lalu naik 3 penumpang.

Supir muda ini berumur sekira 25an tahun. Pembawaannya kalem.
Mobil dibawanya dengan kecepatan dibawah 40 kmj.
Tidak grasah grusuh sambil bermain setir, tancapgas dan injak rem.
“Iya lah becanda. Aku suka sama cara kamu mengemudi.
Tenang kalem tidak kayak supir yang lagi resing.”
“Wah pak. Kalo pake cara begituan mah mobil jadi cepat rusak.”
“Mobil tahun berapa nih?”
“99 pak. Kalo yang bawanya orang lain mah tentu sudah lama kudu diganti.”
“Angkot umur 5 tahun biasanya sudah tua lho. Mobil ini luarnya masih mulus.
Karoserinya stabil. Suara mesinnya juga enak didengar. Tentunya dirawat baik.”
“Iya pak. Ini juga mobil punya saodara. Mana setorannya terserah sayah lagi.”
Kekehya sambil stop pinggir menurunkan penumpang.
“Apalagi begitu, kan kudu dijaga ya mobilnya ya kepercayaannya.”
“Iya pak. Bapak tinggal dimana?”
“Aku di Perum 1.”
“Tempat bapak naik tadi?. Aku juga ada kenalan di Selada.”
“Kalo kamu tinggal dimana?”
“Di Cibodas pak.”
“Kamu pindahan dari Jakarta?”
“Iya pak. Rumah bapak sayah kena gusuran proyek.”
“Dapet ganti untung dong. Dah lama di Cibodas?”
“Wah gak tahu pak. Bapak sayah yang megang.
Terus beli tanah di belakang perumahan Aster.”
“Kapan itu?. Kalo tahun 1990an harga nya masih rada miring.”
“Udah lebih dari 12 tahun.
Sayah dulu bandel pak. Gak sekolah suka bekelai suka ngeboat lagi.”
“Wah jangan ngobat dong. Udah mahal gak ada untungnya resikonya gede lagi.”
“Iya pak. Dulu sayah pernah ketangkep di Tamansari.”
“Bapak kamu sekeluarga pasti susah. Kapan itu?”
“5 tahun pak.”
Heh, 5 tahun yang lalu atau 1999, apa dia kena getok 5 tahun penjara?

“Untung cuma dua hari dilepas lagi. Sejak itu sayah kapok pak.”
“Iya kasihan diri, kasihan orangtua, kasihan saudara. Kamu anak keberapa?”
“Kelima pak. Saudara mah pada pendidikan semua. 2 kakak sarjana. Adik ada yang kuliah.
Tapi semuanya buat sekolah duitnya pada cari sendiri. Kecuali yang SMP”
“Gak apa. Belajar perjuangan hidup sambil bantu meringankan beban ortu.
Bapak juga dulu sekolah SMA kelas 2 biaya cari sendiri.”
“Abis sodara sayah banyak pak. Semunya delapan.”
“Bapak kamu usaha apa?. Dagang apa kerja?”
“Kerja pak sedari muda jadi keamanan Pasar Tenabang. Dia kenal Herkules.
Malahan Herkules yang bantu bapak ngelepasin sayah”
“Bapak karyawan PD Pasar Jaya?”
“Iya pak. Setahun lagi pensiun.”
“Untungnya sekarang kamu gak bandel lagi ya. Dah mau cari duit buat bantu sekolah adik adik. Jaga kesehatan ya sebab kerja nyupir seharian sama saja kerja beratnya kayak kuli macul.”
“Iya pak. Sayah juga suka minum jamu sehat lelaki biar badan seger sajah.”
“Udah kawin apa bujangan?”
“Bujangan pak.”
“Kamu nabung biar nanti kalau ketemu jodoh gak ngeberatin ortu.”
“Iya pak. Makasih nih atas semua nasehat baik bapak.”
Tawanya sambil meminggirkan angkot sebelum jembatan.
“Sama sama.” Tawaku sembari membayarkan uang seribu.

Aku lalu menyeberang mengarah ke sederetan bus kota.
“Mau kemana pak?”
Tanya seorang timer.
“Thamrin.”
“Yah pak. Barusan aja Patas 62 berangkat. Bapak telat semenit.”
Aku tertawa saja mendengar guyonannya.
Kemudian numpang duduk dibangku panjang kios minuman ringan.
Sekira 30 menitan menunggu Patas 62 atau bus reguler 77 belum kelihatan.
Mana arloji sudah menunjukkan angka 1030.
Artinya dalam sejam aku harus sudah sampai ke KK.
Tiba tiba masuk sms dari Lia.
“Assalamualaikum Abah, mungkin kita ketemuan di warnet Abah rada molor.
Teman Lia masih menunggu mobil yang dibawa kakaknya.
Abah santai aja berangkatnya. Maaf ya bah.”
Kujawab saja.
“Iya neng gak apa. Abah juga masih di jalan kok. Salam.”
Tak lama Patas 62 datang aku lalu naik dari pintu belakang.
Lalu berjalan kearah bangku deretan depan.
Ada enam bangku dobel yang baru terisi satu orang.
Kupilih deret ke 3 yang diisi seorang gadiskecil.
“Maaf, bangku ini kosong neng?”

“Iya pak kosong.” Jawabnya sopan.
“Boleh aku duduk disini?”
Gadis itu mengangguk.
Sigadis berkulit bersih, menyandang tas kepit coklat muda.
Dipangkuannya ada alat tulis pada filex biru transparan.
Jemari tangannya lentik berwara kuning coklat tak seputih raut wajahnya.
Jari manis kanan dihiasi sebentuk cincin bermata intan pasir.
Di jari manis kirinya tampak cincin asesoris yang bagus.
Kedua cincin tampak necis di jemarinya.
Muncul seorang penjaja rokok.
Sigadis minta sebungkus tissu berwarna coklat.
Tapi siabang menyodorkan yang berbungkus biru.
“Yang coklat bang.”
“Nggak ada.”
“Kalo begitu yang merahmuda aja.”
Lalu sigadis merogohi tasnya.
Aku minta sebungkus permen Hexos.
“Berapa?”
“Seribu pak.” Ujarnya menyodorkan.
Sigadis menyerahkan selembar 5000.
Aku membuka resliting mengeluarkan 20an dan selembar 500an.
Tas kurogoh lagi meraup uang recehan.
Siabang menyerahkan kembaliansambil bertanya ke sigadis.
“Sama bapak ini?”
“Nggak.” Seru sigadis seraya menerima kembalian 4000.
Setelah kudapat koin 500an lalu kubayarkan.
“Mau kemana? Kuliah atau kerja.”
“Kuliah pak.” Jawabnya perlahan.
Kutawarkan permen tapi dia menolak.
Kubuka bungkus lalu kusuap.

“Kuliah dimana?’
“Di Cikini pak.” Jawabnya perlahan.
Aku malahan menangkap keraguan.
“Apa itu?”
“ABA pak.”
“Jurusan bahasa apa?”
“Bahasa Inggris pak.”
Sigadis sikapnya kikuk sambil melepas pandang keluar jendela.
Wajahnya seperti yang lagi mikir.
Kayaknya aku harus menghentikan percakapan yang tak dikehendakinya.
Tapi kucoba saja sekali lagi.
“Bapak ingin menyarankan, kalau neng ada waktu setelah kuliah.
Datanglah ke British Council di Senayan.
Lokasinya dulu sih di gedung S. Widjojo. Di seberang Pintu IX.
Disana tersedia perpustakaan dan laboratorium bahasa.
Tentu akan manfaat buat menunjang kelancaran kuliah kamu.”
“Saya sebetulnya ingin bekerja pak.”
“Nah apalagi begitu. Disana kamu bisa ketemu teman.
Manatahu rezeki kamu melalui orang lain dimana saja.
Tapi kan musti kita temukan jalannya.”
“Iya pak.” Sigadis mulai mau melihatku.
“Kalau ke Cikini kamu turun dimana?”
“Senen pak, lalu naik Metromini.”
“Jurusan Manggarai ya?”
“Betul pak.”
“Tapi maaf ya. Kamu kelihatannya lagi banyak pikiran. Rupamu juga sedih.”
“Saya jadi sedih pak.”
Segera dia mengambil sehelai tissu.
Lalu disusutinya airmata yang tanpak meleleh dari sudut matanya.
Kubiarkan saja.
“Maaf pak. Saya jadi sedih mendengar kata kata bapak.
Sepertinya bapak tahu kalau saya memang banyak pikiran.”
“Banyak pikiran itu bisa neng. Namanya juga orang hidup.
Asal jangan berlebihan sampai mengganggu emosi dan bathin.
Sampai susah tidur dan kena maag.”
Pancingku dan langsung kena.
“Kok bapak tahu saya susah tidur dan lagi kena maag?”
Tatapnya heran seraya memalingkan mukanya kearahku.
Nah ketahuan ya, ternyata kamu ini gadiskecil yang manis.
Sekilas kubaca gurat di wajahnya.
“Kamu memang lagi susah hati bahkan terkena cobaan hidup yang berat,”
E-eh dianya malah mengguguk.
Aku merasa beberapa pasang mata yang berderap saja ikut memperhatikan.
Yah namanya juga ditempat umum.
Entah simpati atau sekedar ingin tahu.
Barangkali lagi ada gadis lugu yang bakal jadi korban penggombalan.
Oleh seorang tua ompong botak.
Kubiarkan saja.

Menyadari beberapa pasang mata memperhatikan.
Sigadis malahan menangkupkan jemarinya di punggung tanganku.
Kuambil tangan kirinya lalu kuelusi kuremasi seperlunya.
Sampai dia menggeliat ringan dan merintih.
“Iya maag kamu terganggu karena emosi yang lagi terganggu.”
“Paaak.” Bisiknya lirih.
“Iya neng?. Jawabku sambil mengelusi.
“Saya minta maaf tadi membohongi bapak bilang saya kuliah.”
“Nggak apa neng. Aku maklum kok.
Dulu sekolah dimana?”
“Cikohkol.” Aku kurang simak.
“Cikohkol?”
“Iya pak.”
“Kamu ini lagi mengalami kesenjangan bathin dengan seseorang.
Dianya ini seharusnya dekat dan membela kamu.”
“Iya pak.” Tatapnya menyerah.
“Puncaknya terjadi sekira 2 tahunan. Tapi kembangnya sudah lama.
Hmmm, sekira 4 tahunan dari sekarang.
Heh, kamu ini lagi merasa marah tapi tak berdaya.”
Tangisnya berlanjut dan tanpa suara kepalanya disandarkan ke lengan kiriku.
Kubiarkan juga dan tetap kuremasi.
“Baru sekali ini ada yang perhatian dan mau mendengarkan saya.”
“Iya karena selama ini kamu ditekan, dipersalahkan dan dikucilkan.”
Teraba anggukan perlahan.

“Kalau kamu mau. Boleh curhat apa saja. Bapak biasa membantu yang lagi susah hati.
Sambil mencarikan solusi bagi yang lagi mengalami gangguan emosi.
Kamu tinggal dimana?”
“Di Karaciwa.”
“Tetangga dong. Bapak juga di Cibosari. Neng ada telepon?”
Dianya mengangguk sambil mengaduk isi tasnya.
Dianya lalu menyerahkan selembar potret berisi foto anaknya yang berumur setahunan.
“Anak yang lagi manis dan lucu."
Kupandangi foto bayi yang lagi tertawa itu.
“Ada kertas dan bolpen? Nanti bapak kasih alamat kalau neng membutuhkan.”
Dia mengaduk filex, sambil berbisik.
“Kok bolpen ketinggalan?” Menungnya.
Kukeluarkan bolpen dari tasku.
Diatas buku tulisnya kutuliskan nama, alamat, notel dan nohapku.
Lalu kuambil kartunama dan kusodorkan bersama bolpen.
Dia menulis satu nama dan notel.
Kutanyai beberapa pertanyaan mendasar.
Jawaban singkatnya kutuliskan di sekitar tulisan tangannya.
“Ambil bolpen ini buat neng.”
“Kok bapak perhatian sekali sih.”
“Jangan lagi dipikirkan neng.
Tadi itu kalau dari rumah bapak lebih cepat 5 menit dan tak ketinggalan bus.
Kita tentu tak jumpa. Jadi perjumpaan kita ini karena Yang Maha Pengatur. Ya?”
Sigadis mengangguk.
“Kalau neng perlu curhat atau apa. Hubungi bapak. Kita saling bantu saja.”
Perlahan dan berbisik dia berkisah.
“Jujur saja ya pak. Waktu aku kelas 1 aku mengalami kecelakaan.”
“Dimana?”
“Bandung. Waktu itu Roni mengajak ke Bandung untuk menemui pamannya.
Kami pergi bersama para saudara misannya.”
“Semuanya cowok?”
“Bersama 2 cewek.”
“Nginapnya dimana?”
“Hotel.”
“Itu terjadi karena saling cinta?”
“Iya pak. Kami pacaran sejak aku SMP.”
“Dulu SMP nya dimana?”
“Di Cikohkol juga.”
“Apa Roni juga sekolah disana?”
“Tidak pak. Dia mahasiswa.”
“Berapa umur Roni?”
“23 pak.”
“Sudah kerja”
“Masih kuliah. Tapi sekarang katanya dipindahkan oleh ortunya ke Bandung.”
Beberapa ungkapan yang kurang jelas tertangkap sering kuminta ulang.
“Dia masih suka menghubungi neng?”
“Tidak pernah pak. Dianya takut sama ancaman kalau dia masih mewnemuiku.
Ortunya akan menghentikan semua pembiayaan hidupnya.”
“Neng suka menghubungi?”
“Tak bisa pak. Semenjak di Pengadilan Agama, Hp nya diganti ortunya.”
“Kok neng tahu?”
“Teman temannya yang bilang.
Bahkan dia takut memberikan nomer hp kepada teman dekatnya sekalipun.”
“Kasihan ya dia. Sampai sebegitu takut kepada ortunya sendiri.”
“Iya bahkan sewaktu di pengadilan, dia tak boleh menggendong Radi.
Padahal dianya ngotot juga, tetapi tetap saja orangtuanya melarangnya.”
“Bagaimana sikap ortunya ke Radi?”
“Pokoknya Roni tak boleh mengenal kami lagi.
Jangankan Radi, saya dipandang sebagai orang yang menghancurkan masa depan anaknya.”
“Apa dia tidak merasa kalau anaknya yang menghancurkan masa depan neng.
Menyebabkan sekolah neng terputus.
Memberikan beban yang belum waktu nya neng sandang sendirian.”
Kentara kalau dianya curhat sambil malu hati.
Berbisik dan menahan diri sambil mencari kata yang tepat dan ringkas.
Tapi tak mampu kecuali terisak.
“Sudahlah semuanya sudah terjadi. Sekarang tinggal teruskan hidup.
Berjuang untuk punya ijazah. Lalu cari kerja yang halal dan baik.”

“Apakah dia memberikan nafkah Radi?”
“Tadinya ortunya cuma sanggup seratus. Tetapi oleh hakim ditetapkan 250.”
“Tentunya berat bagi neng.
Tetapi apa boleh buat.
Kekurangannya dari mana?”
“Kakak ikut membantu.”
“Bapak dan ibu bagaimana?”
“Itulah yang membuat saya semakin pusing.
Bapak sering marah, mamah juga jarang di rumah.”
“Kemana?”
“Di rumah kakak, pulangnya seminggu sekali.
2 hari di rumah, 5 hari di Semprong”
“Iya bisa dimaklumi. Buat ortu, neng dan Radi menjadi beban yang berat.”
“Iya sih pak.”
“Tentu dibandingkan si sulung. Nah kamunya jangan kepalang shabar.”
“Tapi maaf pak. Tolong bapak jaga rahasia kami ini.
Jangan sampai orang lain tahu. Apalagi tetangga kami.”
“Oh jangan kawatir neng. Buat bapak sudah menjadi kode etik untuk menjaga rahasia pribadi pasien. Apalagi dengan adanya permintaan begini. Ya?”
Dianya mengangguk.
“Dulu sekolah sampai kelas berapa?”
“Kelas dua pak karena keburu hamil.”
“Roni gimana?”
“Dia tanggung jawab pak. Dia tak pernah menganjurkan aborsi.
Karena dianya ingin menikahiku.
Roni juga selalu mendampingi saat periksa ke dokter dan beli obat.”
“Neng menikah dimana?”
“Di rumah pak.”
“Orangtua dan keluarganya datang?”
“Tidak pak. Roni datang sendiri diantar oleh teman teman kami.
Malamnya Roni dijemput oleh suruhan ortunya.
Semenjak itu kami tak pernah lagi jumpa, kecuali sesaat di Pengadilan.”
“Pengadilan Agama?”
“Iya pak. Waktu di Pengadilan.
Roni diam saja dan harus menuruti apa yang dituntunkan oleh ortunya.
Sampai hakim menyuruh untuk diam dan meminta Roni menjawab sendiri.”
“Berapakali sidang?”
“Sekali saha dan langsung putus.”
Aku manggut dengan heran. Apa iya bisa sekali sidang langsung diputus?
“Waktu masih pacaran neng pernah kerumahnya?”
“Pernah 2 kali diajak. Tetapi tak pernah jumpa ortunya, cuma kakak2nya.”
“Kenapa ortunya tak setuju?”
“Karena perbedaan ekonomi keluarga. Dia anak orang kaya, kami miskin.”

Bus sudah meliwati Setiabudi.
“Nah neng, bapak mau ke KK karena ada janji bisnis.
Neng jaga keselamatan agar bisa merawat Radi dengan baik ya.”
“Iya pak. Terimakasih.”
“Maaf neng ada uang berapa?”
“Sepuluh pak. Kenapa?”
“Kalau neng tak keberatan, bapak ingin menitipkan sedikit uang buat Radi.
Belikan tambahan susu barang sekaleng.”
“Jangan pak, bapak juga banyak keperluan.”
“Bapak titip ya neng, penggunaannya terserah neng.”
“Maaf jangan pak. Saya merasa enggak enak,”
Jawabnya sambil senyum.
“Baiklah bapak maklum neng.”
Atuh iya bisa saja dianya merasa malu entah gengsi.
“Maksud bapak baik. Maaf bapak tiada maksud merendahkan dan menghina.”
“Oh tidak pak. Makasih untuk simpati dan perhatian bapak. Doakan saya pak.”
“Sama sama neng. Jangan lupa makan.
Nanti pulang jam berapa?”
“Jam lima pak.”
”Sampai jumpa ya.”
Salamku lalu berdiri mendekati kabin kemudi saat kondektur teriak Sogo.
Setelah turun kulambaikan tangan kearahnya yang tak tampak.
Karena kaca jendela dilapisi filter gelap.
Aku lalu berjalan menyusuri pinggir kali Cideng sepanjang pagar Plaza Indonesia.
Terdengar ledakan, tetapi orang disekitar jalan tampak tenang saja.
Bisa jadi pembongkaran bekas Hotel Indonesia dilakukan dengan menggunakan dinamit.
Hotel Wisata sudah tampak rata dengan tanah dikelilingi pagar seng proyek.
Sejak dari jembatan sudah ada beberapa orang yang hangat menyalamiku.
Personil rumahmakan menyambuti tatkala aku masuk dan duduk
Lantas memesan secangkir kopi.
“Dari rumah Embah?” Tawa Tarno.
“Iya dong.” Tawaku sambil mengaduk.
“Kok lama tak kemari mbah?”
“Iya aku sibuk. Ini saja dari sini aku mau terus ke Bogor.”
“Bisnis mbah?’
“Silaturahmi keluarga.”
Kuambil sebatang GG yang bungkusnya langsung diraih Giman, lalu mengambil sebatang.
Tapi dia menolak tatkala kusodorkan nyala korek kearahnya.
“Rame ya mas.”
Gumamku sesaat pandang keseputar,
“Alhamdulillah pak. Untung rumah gak jadi dijual pak.” Kekehnya.
“Kenapa mas?” Aku kurang dengar oleh bising klakson taksi liwat.
“Iya. Sepertinya karuhun Raison tak rela kalau rumah ini dijual.”
“Oh iya. Apalagi aku yang tak rela kalau dijual.
Buatku daripada dijual aku ingin dapat sepetak tanah bagian. Sayang lho.”
“Sudah ada beberapa orang yang nanya. Tetapi juga selalu tak berlanjut.”
“Syukurlah kalau begitu. Kan kita masih bisa kumpul makan ya mas.” Tawaku.
“Oh ya pak. Sudah makan siang?”
“Nantilah mas. Aku ada janji mau ketemu teman.”
“Disini pak?”
“Iya sekalian menumpang makan.”
“Ya silahkan toh pak. Wong bos kami kok. Tentunya pak.” Kekehnya.
“Jangan suka manggil bas bos begitu.”
Kukeluarkan hp lalu kirim sms.
“Neng dimana? Abah lagi ngopi di RM. Nanti kita makan siang bersama ya.”
Aku lalu bangkit.
“Mas aku ke warnet mau titip pesan.”
“Iya pak.”
Aku lalu ke warnet dan mendekati kasier Rina. Kali ini dianya tampak langsing.
Dari meja pc 10 wajah Ozie tampak menyembul.
“Man.” Serunya.
“Eh Zie.” Jawabku.
Aku menyampaikan pesan kepada Rina.
“Kalau ada yang menanyakan abah Eman, arahkan ke RM ya Rin.”
“Iya pak.”
Ozie mendekati.
“Sama siapa?”
“Sendiri, cuma lagi nunggu 2 teman.”
“Ada janji?”
“Iya. Ngopi yu Zie.”
Pamitku sambil mengarah ke RM.
“Iya nanti nyusul. Aku lagi ngumpulin bahan dari Internet.”
“Mau bikin makalah?”
“Iya. Lagi ikut SPMA.”
“Di Salemba?”
“Iya. Dulu sih di Rindam. Tapi sekarang DKI menyewa gedung untuk diklat.”
Aku lalu mendahuluinya ke RM.
Kuambil tas dan cangkir untuk bergeser ke meja pojok kanan belakang.
Biar lebih nyaman mengawasi suasana sambil menunggu Lia.
Ozie tampak datang mendekati.

“Dah lama ikut SPMA nya?”
“Belum mulai. Pembukaan baru besok.
Selesai 6 Desember. Berat kupikirkan mana menjelang bulan Puasa.
Biasanya tersedia ada di rumah untuk mendampingi anak anak.
Tadinya kucoba menunda dengan alasan sibuk Tapi bos malah menekan agar ikut.”
Aku cuma tertawa.
“Siapa yang ditunggu?”
Kujelaskan sedikit perihal prospek Lia.
Kujelaskan juga tentang kelanjutan Konsultasi Gangguan Emosi. Serta keinginan untuk menyisihkan 2 hari seminggu bagi yang perlu untuk konsultasi dan pengobatan.
“Pokoknya Ozie setuju. Silahkan saja.
Ruang dibelakang juga kosong.”
“Iya tapi kan juga perlu persetujuan dari yang lainnya.
Nanti deh aku kirim sms ke semuanya.”
“Silahkan, tapi ke Ozie gak usah karena Ozie pasti setuju.”
“Barusan kirim sms ke Yaya minta jatah September diambil duluan.
Yaya bilang bisa. Tinggal Eman ke Jamal. Lagi perlu, mau ke Kuningan.”
“Ya udah, Ozie yang urus.”
Jawabnya seraya keluar ke warnet.
Tak lama balik lagi.
“Jamal cuma pegang 600. Uang lainnya diambil pulang tiap hari oleh Yaya.”
“RM mungkin ada?”
“Oya ya.” Lalu bangkit ke meja kasier.
“Ada 800.” Jelasnya tatkala balik lagi.
Dia mengeluarkan hp.
“Ozie mau panggil Yaya supaya kemari bawa yang 600 lagi.”
“Gak usah begitu Zie. Ntar malam kan warnet setor. Eman nginap dah.”
“Oh mau nginap. Ya sudah nanti Ozie atur ke Jamal, biar besok siap.”
“Makasih Zie.”
“Kalau ke Kuningan naik apa?”
“Bus Patas 30 ribu dari Tangerang.”
“Enakan naik kereta.Ekonomi 30 ribu. Tiga jam setengah sampe ke Cirebon.
Kalau bus berapa lama?”
“Berangkat jam 23 sampai Cilimus jam 0530. Enaman jam lah.”
“Kelamaan. Sudah lah naik kereta saja.
Mau yang eksekutip 40 ribu. Bisa tidur pakai AC, enggak ada jalan macet.”
“Tapi dari Cirebon masih musti ganti kendaraan lagi ke Kuningannya.”
“Kalau bus langsung Kuningan?”
“Iya.Selain bayar ceban lagi kan juga turun naik lagi. Cape dijalan.
Cuma memang naik kereta kaki nggak pegal, mana bisa jalan jalan di bordes.”
“Makanya.”

Ketika menyeruput kopi, hp terpanggil.
“Salam. Neng dimana?”
“Bah. Lia sudah ada didepan warnet Raison nih.”
“Silahkan parkir.”
“Abah dimana?”
“Di rumah makan. Nanti abah jemput.”
“Dah dulu ya bah.”
Hp lalu kembali siaga.
“Aku keluar dulu, jemput teman.
Titip tasku ya mas.” Kataku ke Giman.
“Sudah datang pak?”
“Iya mas.”
Aku langsung ke jalan.
Terparkir satu Kijang dan satu Panther. Tapi sebuah sedan tampak tengah parkir.
Dari pintu kiri keluar dua wanita gemuk. Dari ruang kemudi muncul lelaki.
Dari ruang penumpang lalu muncul seorang gadis muda kecil mungil.
Aku mendatangi dan sigadis lalu senyum kepadaku. Wajahnya memang Lia.
Senyumnya seperti yang ada di fotonya.
Meski aku heran akan tubuhnya yang terlalu ramping.
Padahal kalau menatapi fotonya terbayang kalau Lia gadis seksi.
Tahunya dianya gadiskecil juga.
Memang sih infonya tinggi 155 berat 43.
Kami saling menyalami lalu langsung kuajak ke salah satu meja panjang.
“Maaf aku tak sempat cukur.”
“Malahan tambah ganteng kok.”
Tawa pak Handy berakrab ria.
Hemmh, gayanya edifikasi MLM deh.
Kutawarkan langsung makan karena sejak tadi aku lapar.
Tetapi pak Han, enakan begitu aku memanggilnya, menolak dan mengatakan nanti saja.
“Prospek saja dulu.” Tawanya.
Aku lalu menawarkan minum.
Mereka berempat meminta teh es tawar.
Kecuali ibu Lisbeth yang memesan teh manis panas. Aku memesan kopi.
“Abah ngopi melulu sih?” Tegur Lia.
“Huh tukang protes luh.” Tawa kami.
Kukenalkan mereka kepada Ozie.
Kusebut sebagai adik kelima.
Ozie lalu pamit memberiku kesempatan.
“Maaf. Apa boleh kami juga manggil abah. Mengikuti Lia?”
“Oh silahkan saja biar akrab.”
“Langsung saja ya abah.”

Pak Han lalu menjelaskan propektus dari http://www.1CellNet.com/
Sambil sesekali kutanggapi seperlunya.
“Waduh senang saya. Ternyata abah cepat tanggap dan mudah paham.”
Tawa pak Han sambil meneguk teh.
Sepintas kujelaskan kalau aku akrab dengan IT dan Multimedia.
Juga dengan radio komunikasi dan elektronika.
“Abah juga tentunya semakin banyak teman yang bisa di prospek.
Karena suka main Internet kemana mana.”
“Iya lah. Ini neng Lia hasil pertemanan di Internet.”
“Iya bah. Kalau abah join kita nantinya akan semakin sering ketemu.”
Senyumnya dengan manis.
“Paling bisa nih anak kalau merayu.”
Tawaku sambil kucolek pipinya yang menyebabkan tawa dari bu Lis dan bu Fatma.
Lia tampilannya menjadi malu malu.
“Tolong abah isi form ini. Join nya bisa kapan saja ya bah.”
Kata Lia sambil menyodorkan formulir isian.
Ibu Lis menyodorkan bolpen mahal.
Lalu kuisikan data pribadi berikut alamat rumah notel nohap, Idyahoo dan nohap keluarga. Tanpa ada tanda tangan. Jadi tak akan menjadikan ikatan apapun.
Lalu diambil kembali oleh Lia.
Setelah itu mereka langsung pamit karena masih ada 2 tempat untuk di prospek.
Kuantar ke areal parkiran.
“Walah neng Lia mah. Hanas abah menahan lapar, karena ingin makan siang bersamamu.”
“Maaf ya bah. Lia sudah makan kok.
Nanti deh kalau Lia kesini lagi.”

Jam sudah menunjukkan angka 15 ketika kupesan favoritku. Nasi tunggang.
Saking lapar nasi segera nambah kecuali tunggang, mana berurat mana liat lagi.
“Pak, melihat cara bapak makan aku jadi kepingin nambah.
Bapak makan tampak nya enak sekali.” Kata satu pengunjung.
“Iya pak. Aku kelaparan nih.” Tawaku.
Selesai makan aku istirahat sambil ngudud dan secangkir kopi lagi.
Setelah cukup lalu ke kasier buat memparaf bon makan.
“No coba lihat botol arak itu.”
Sambil menulis Tarno menyorongkan.
Lima bulan lalu saat terakhir aku kemari ada kulihat kemasan itu.
Arak Obat Gosok Payung Sakti.
Kemasan seharga 6000 rupiah itu lalu kusimpan di dalam tas.
Setelah kuparaf bon dan kubayar arak aku lalu ke warnet.
Ozie tampak masih sibuk browsing.
“Zie kalau mau melihat Data Untai Keluarga kita, sekarang bisa dilihat di http://pancakaki.blogspot.com/
Seperti tempo hari saat kuperlihatkan CD Data Untai Keluarga dengan label Apa dan Mimih, Ozie juga tampak antusias bahkan alamat http itu disimpan nya pada memo hp nya.
“Wah bagus tampilannya. Warna template nya hijau sejuk.
Ditunjang tampilan ini, Blogger Power yang menjadi tampak lebih hidup.”
“Kalau mau baca gunakan Arrow. Atau baca Daftar Isi lalu klik menu pilihan.”
Aku lalu memperagakan.
“Yang lain sudah pada tahu nih?”
“Baru sebagian keluarga kita pengguna Internet.
Tapi keluarga yang lainnya juga sebagian sudah ada yang tahu.
Jadi kalau mereka memerlukan, tak lagi kudu dicetak tapi cukup buka di warnet saja.”
“Kok begitu?”
“Iya kalau setiap yang minta Data lalu dicetakkan, dijilidkan, diposkan.
Berat diongkosnya dong. Padahal data pada cetakan akan menjadi statis.
Kalau nantinya ada novum isi cetakan itu menjadi gak aktual lagi.”
“Iya juga ya. Kalau 50 lembar saja udah berapa?
Belum jilid, belum pos, belum ongkos.” Kekehnya.
“Kalau cetak di warnet Raison saja.
50 lembar text hitamputih @ 2ribu udah cepe.
Cetak 8 lembar Thumb-nail Album Potret warna @ 7500 dah 60ribu.
Ongkos jilid 5ribu, kirim pos 12ribu, ongkos jalan 5ribu.
Semua sedikitnya dah 182ribu.”
“Ya berat di kita. Belum ongkos pencarian data ke lapangan.”
“Kalau itu sekalian merawat silaturahmi kekeluargaan seperti petunjuk Apa.”
“Kalau efektif.”
“Iya kalau mereka ikut membantu menyebar luaskan.
Biasanya malahan cuma disimpan di dalam peti entah dijadikan jimat.
Waktu aku ke Cinangsi, ceu Uha minta alamat dan notel Uud.
Katanya waktu Uud mampir sudah ngasih, cuma lupa nyimpannya dimana.
Aku tanya buku Data Untai Keluarga yang dulu kutitip apa masih ada?
Jawabnya ada dan disimpan di lemari.
Aku bilang buat apa disimpan di lemari?
Bagaimana kalian terutama para cucu wa Rin bisa membaca untuk menambah wawasan keluarga. Temukan saja lagi buku itu, lalu buka halaman Data Alamat.
Semua keturunan oom Rais ada tertulis data alamatnya.
Alamatnya wa Rin saja ada kok.”
“Itulah ironisnya. Kita sudah tahunan susah cape namun tetap tak kena sasaran.”
“Perlu sosialisasi Zie.”
“Caranya?”
“Kayak Didi. Ngasih amplop isi uang. Pada amplop tulis http dan e-mail.”
Kekehku.
“Iya duitnya diambil, amplopnya dipakai buat nyeumpal tai kotok.” Kekehnya.
“Makanya kubikin alamat http ini.
Agar kapan saja tiap orang bisa buka, bisa baca, bisa kopi, bisa cetak, bisa jilid.
Terserah sama daya jangkauan dompet dia.
Barangkali kalau merasa keluar duit, nanti isi Data menjadi lebih berarti.”

“Terus bagaimana agar memasyarakat?”
“Kutitipkan pada alamat situs mana saja.
Termasuk kotak informasi dari beberapa situs resmi kedaerahan.
Misalnya situs http://www.kuningan.go.id/
“Kuningan Cirebon?”
“Iya Kuningan tanah leluhur kita.
Nantinya juga akan dititipkan di situs Pemda DKI Jakarta plus lima wilayahnya.”
“Album Potret dan Potret Keluarga nya masih kosong ya?”
“Iya. Nih aku lagi down-load program hello dari http://www.picasa.com/ untuk bisa memuat tampilan foto2. Baru nantinya Album Potret dan Potret Keluarga bisa tampil. Syukur lagi kalau MS-Word bisa nyambung agar dari seutas nama warna biru, kalau di klik hyperlink lalu muncul fotonya. Tentu akan lebih menarik hati”
“Iya ya.” Hehehnya.
“Nah ini sudah jadi programnya tinggal dikopi di CD lalu di instal di rumah.
Nanti dari rumah kuisi data potretnya.”
“On-line di rumah pake apa?”
“Pake Nokia CDMA.”
“Hp?”
“Iya hp nya Ade. Cuma sinyalnya sering rendah, sehingga jaringan sering putus.
Picasa ini sering di down-load di rumah.
Tapi gagal terus, karena baru down-load 80% jaringan terputus. Harus diulang.”
“Kalau di area rumahku bisa tidak ya?
Lagi perlu ngenet banget nih. Banyak banget bahan yang kudu di down-load.
Kalau ke warnet kan waktunya terbatas”
“Ya bisa dong. Ini kan Jakarta. Kuat sinyal tentunya nyaris sempurna.
Kalau dibandingkan dengan Tangerang.”
“Nanti deh cari infonya. Aku pulang dulu untuk persiapan besok masuk asrama.
Cuma kalau nginap nanti mau minta tolong ikatkan dasi ya.”
Bangkitnya seraya menaruh sepucuk amplop putih diatas mother-board.
“Ini buat nambahin beli karcis kereta.”
Kekehnya lalu mengangkat note-book dan membawanya kearah Karimun.
Amplop langsung kukantongi.

Monday, October 11, 2004

Bewara ka Neneng

Tangerang, 22 Juni 2004.

Kahatur jeng rayi :
Utit Supriati
Nunung Nurladi
di Cantilan.

Waktos midamel serat kang Eman parantos aya di Tangerang, kukituna hatur maklum manawi teu acan tiasa mayunan pamundut jeng rayi kanggo ngadeuheus ka tuang rama di Cantilan.
Kantenan aneh upami nguping carios jeng rayi waktos urang patepang di bumi ceu Kusneng. Rehna manawi jeng rayi masih miharep kang Eman sareng kang Didi mampir ka Cantilan?
Rupina akang peryogi balaka naon anu janten marga lantaranana boh kasang tukangna.
Ti aalit akang sareng para adi tos biasa ngiringan pun bapak Rais Willadirana sareng pun biang Srikanti, kumaha kedahna miara silaturahmi boh ka anu aya di Jakarta pon ka anu di Kuningan.
Hubungan silaturahmi patali nasab boh hukum, kapungkur karaos seger jalaran ku asak anjang.
Saparantos arageung, akang masih tetep miara wurukan sepuh perkawis silaturahmi tea.
Akang masih rajin ngaluangkeun waktos kanggo ngadongkapan ka saha wae anu kasebat wargi.
Pon kitu ka Encun sareng Handa waktos aranjeuna masih lalinggih di areal kebon sawo Cikoko.
Malihan pun bojo janten apal ka ibu mitoha aranjeuna, tangtosna oge ka yi Iloh sareng yi I-oh.
Namung sisilaturahmian teh karaos pincang henteu saimbang.
Ari akang sok rajin dodongkapan ka dulur.
Ari dulur tara ieuh aya embolna ka sepuh akang di Kebon Kacang 30/20 Jakarta Pusat.
Upami teu apal tempat asa piraku, kapan tuang rama di 1958 sababaraha kali aya sumping.

Hiji waktos dina warsih 1977 akang bade ka sepuh.
Dipengkereun hotel Indonesia akang pendak sareng Handa anu nembe mulih ti kantorna di hotel Wisata. Handa waktos eta nganggo raksukan seragam bari di sapatu boot koneng.
Saatos silih upahan akang ngajak Handa mampir ka pun bapak dumeh kaleresan nuju aya kempelan riung mungpulung palaputra sakulawarga wa Rais.
Naha bet Handa teh nyarios kieu, “Moal ah kak Eman, abdina isin.”
Waler akang, “Isin kunaon?”
Sentug Handa, “Kak Eman mah jalmi beunghar, ari abdi jalmi miskin.”
Kantenan akang kaget, heran wae naha kadar silaturahmi diukurna nganggo taraju kaya miskin.
Manawi atuh, silaturahmi geuning teu imbang pedah ngukurna sanes ka patalian kasaean watak, tapi ku lalab runtah sarwaning daki dunya.
Saterasna Handa teh dius wae indit bari rupi wera.
Sanaos bari ngajentul heran oge, akang nyobi ngamaklum kana alatan Handa manawi nuju stres.
Rupina eta geuning anu janten marga lantaran dugi ka silaturahmi urang henteu imbang.
Ari ti pihak akang resep kana pergaulan ka saha bae sok komo remen jul jol ka anu janten dulur, bari tara ieuh iseng ngukur kana kaya miskina kana cacah menakna boh kana hurang keuyeupna.
Dina warsih 1977 eta, padumukan akang sarimbit masih ngontrak di bilangan Menteng Pulo.
Padahal bumi pun bapak oge ilahar bae henteu ageung sigrong.
Malihan masih aya jubin anu mung saukur di lepa.
Pun adi Didi, Uud nembe damel di DKI. Toto, Ozie, Yaya masih sarakola.
Matak heran, naon ukuranana bet akang tiasa kaetang kana jalmi beunghar anu matak dipikaisin?

Di bumi pun bapak akang tangtos nyarita, bisi aya kasangtukang masalah anu duka teh teuing.
Pun bapak kantenan ngahuleng bari nyerengeh.
Margina piunjuk pun bapak mah, ulahing ka anu masih aya patali nasab atanapi hukum pertikahan, ka batur wae sok rajin nebarkeun silaturahmi.
Bari susuganan ka cai jadi saleuwi pasini sugan ngajadi, namina bae jalmi ahli pangumbaran.
Pun bapak wae silih bantuan keneh ka cacah kuricakan, henteu ka ahlul masjid wungkul.
Antukna diputuskeun bade ngiringan kana pamendakna Handa.
Akang oge tangtos isin upami bade dongkap kana padumukan Handa.
Kantenan deui saupamina diangkir dongkap ka Cantilan.
Ti sabada harita akang jeb wae tara deui lunta lanto, mending remen nyaba ka Sukabumi.

September 1978, akang, Didi, Uud ngiringan pun bapak sareng pun biang.
Nyaba ka Manis lajeng ka Dayeuh.
Teras disuguhan suka sono nikmat tuang sareng di bumina bi Engki bi Eri.
Daharna oge basajan bae henteu di aya ayakeun pedah ka anu kasumpingan “jalmi beunghar”.
Rupina bi Engki masih apal kana kasapta pun bapak.
Sangu akeul, sayur lodeh, pepetek asin, sambel tarasi disarengan ku lalab peuteuy.
Atuh kantenan pun bapak mani kenging 2 papan.
Akang mayunan uih, pedah aya janji bade nepungan pun rencang Ending Sahidin di Cilimus.
Sabot keur leumpang, akang papendak sareng Handa di jajalan raya payuneun bumi.
Anu lajeng bae siga anu akrab mani ngagugusur panangan akang ngangajak mampir.
“Ka sepuh. Ka sepuh” hayoh saurna maksa, namung akang oge hayoh bae mugen.
Keur kitu katingal tuang rama sumping ka payun bari marios, “aya naon Han?”
Kaperego ku mang Karna mah, akang janten teu walakaya pedah emut kana tatakrama.
Lajeng akang mampir sakedap. Manawi harita pamungkas akang dongkap ka Cantilan.
Geuningan pun bapak oge teu ieuh hoyongeun papendak ka tuang rama sarimbitna.
Saterasna tug dugi ka kiwari, tara ieuh akang boh pun adi Didi aya maksad mampir.
Sanaos akang ngalangkung ka Linggajati, sanaos akang ngawengi di kang Surasa di Cipaku.
Sanaos urang patepang di ceu Kusneng waktos nikahan enok Rosita di Cinangsi tea.

Kukituna kasuhun manawi jeng rayi Utit sareng Nunung pada uninga.
Naon kasangtukangna akang atanapi pun adi Didi tara ieuh bade hahajaan mampir ka Cantilan. Sebab mayunan jalmi anu masih mangsualkeun pakaya.
Walukarna ka anu beunghar sok suudhan ka anu miskin matak tulak cangkeng.
Duanana mudharat kana duduluran, malah nebihan kana nikmatna mitali silaturahmi.
Akang masih keneh resep nganjang, moal rek pandang kaya miskina kajabi estu mung dulur.
Pamugi saparantosna maos seratan akang, jeng rayi moal deui siga anu meupeus keuyang.
“Kak Eman sareng kak Didi sering ka Linggajati tapi tara mampir ka Cantilan.”
Kajabi tos sami pamadegan peryogina urang bakal silih piara silaturahmi.
Sedep silih anjangan. Bade silih haneutkeun komunikasi duduluran.
Ambeh anak incu urang henteu pareumeun obor.
Saatos akang badanten ka para adi manawi maksad.
Urang silih sambungkeun deui silaturahmi.

Waktos kamari urang tepang tea.
Akang nyoren bundel catetan Data Untai Keluarga anu disusun kawit ti 1991.
Akang masih daek hese cape, nalungtik bari nyatetan jutjutan duduluran etang etang nyusun Pancakaki. Ngumpulkeun Data Alamat, cekrak cekrek motretan dulur kanggo ngeusian CD Album Potret. Aprak aprakan nganjang bari nyambungkeun silaturahmi ka dulur.
Boh ka anu tos wanoh sok komo ka anu teu acan tepung.
Ka anu sanasab boh anu katalian ku hukum.
Teu aya sanes ambeh anak incu wanoh ka garis dulur.
Syukur lamun pareng silih kabaran.
Kamari saatosna ngawengi di ceu Em.
Akang cacakan lapor ka Ketua RT Haji Jaja di Dukuh.
Antukna dugi ka ibu Hajjah Urmi di Setianegara nyatetan data sarimbitna.
Sakantenan nalungtik asal usul pun abah Willadirana.
Anu manahoreng tuang rayina abah Amad, abahna Hajjah Urmi.
Manawi peryogi Data Untai Keluarga mangga tingali di Internet, http://pancakaki.blogspot.com/ sok aos Seri B.4.
Urang cekapkeun bae heula wartos ti akang, manawi jeng rayi janten pada uninga.
Hatur nuhun parantos nyekapkeun data sarimbitna tuang rama kanggo acuan informasi nasab.
Hatur baktos ka tuang rama sinareng tuang ibu, katut salam kum ka sadayana.
Kirang langkungna kasuhunkeun pangapuntena.
Wassalam,
Emanrais.
NB : Dicitak 1 September 2004. Diposkeun 7 September 2004.


HUBUNGAN KOMUNIKASI SMS DENGAN NENENG.

07 September 2004 Jam 1000
kuposkan surat buat Utit dan Nunung di Cantilan.

SMS DARI NENENG UTIT 07 SEP 2004 JAM 1459
“WA MAAF INI NENENG CUCUNYA ABAH KARNA LINGGAJATI. NENENG LGI DI SKBUMI MAU TANYA KATANYA ADA SAUDARA DI SUKABUMI. BENAR GA? SIAPA? TRUS DIMANA? SEKALI LAGI MAAF”

Langsung ku jawab
“Haturan Neng. Iya wa isteri asal Babakan Jampang dekat Perana Sukabumi.
Dari siapa Neng tahu no hp wa Eman?”

SMS DARI NENENG UTIT 07 SEP 2004 JAM 1957,
NENG TAU NO HP WA DARI WA ENCAM JAMBI. KEBETULAN NENG LAGI ADA DI SUKABUMI. TDNYA PENGEN KETEMU WA ISTERI. BOLEH MINTA NO TELF SKBMNYA.

Langsung kujawab.
“Tapi sekarang ada di Tangerang 021 553-6878.”

SMS DARI NENENG UTIT 07 SEP 2004 JAM 2012,
“KALO NO TEL DI SKBM ADA GA WA? KALO NENG SKRG LG TINGGAL DIRUMAH KAKEK DI TIPAR. NO TELF NYA 0266. TP PEMILU NENG PLG DULU KE LGJATI”

(Aku lalu nelepon ke Tipar. Neneng lagi keluar bersama pamannya. Diterima oleh tantenya bik Sri. Sri mengundang mampir. Kujawab aku nelepon dari Tangerang.)

Sms ke Neneng Utit.
Barusan wa nelepon ke Tipar diterima oleh tante Sri.

SMS DARI NENENG UTIT 07 SEP 2004 JAM 2030,
WA TELF KEMARI LAGI YA BARUSAN NENG KE WARUNG SKRG DAH ADA DIRUMAH MAAF YA WA KALO BISA TELF MAKASIH

Kutelepon lagi. Kujelaskan aku senang melihat sikap Neneng dan Mimih Utit dan mang Nunung yang akuan sama baraya. Neneng bingung kenapa aku sama Didi tak pernah mampir ke rumahnya. Padahal Encam suka menginap. Pernah melihat Handa memanggil ku saat aku dan Didi lewat di depan rumahnya. Kujelaskan kenapa dan kubilang kalau tadi siang aku baru saja memposkan surat buat Mimih Utit di Cantilan.
Habis Pemilu 20 Sep 2004 aku mau ke Linggajati lagi.
Neneng minta kalau aku ke Linggajati agar mau mampir ke rumahnya.
Kujawab tidak selama belum ada perubahan sikap dari Handa dan keluarganya.
Rumah Mamah sudah misah dari abah Karna dan wa Handa, katanya.
Neneng juga memberikan alamat pos mang Karna dan no telepon Handa.
Kujelaskan tentang pertemuanku dengan ibu bapaknya di Cinangsi.
Katanya Utit menunggu kedatanganku tapi tak ada dan membingungkan Neneng.
Ini pasti ada apa apanya ya Mah?. Tidak tahu jawab ibunya.
Kujelaskan aku lagi nyusun Data Untai Keluarga yang disimpan di Internet.
Kukatakan kalau aku ada punya suntingan foto Neneng, Depi dan Anti dari Susi Ardia.
Neneng bilang akan mengirim foto ke alamatku yang diperolehnya dari wa Wawan.
Kuberikan juga deskripsi singkat dan no hap Adel.
Juga notel Ropi 0266 asal neleponnya jangan malam.

SMS DARI NENENG UTIT 07 SEP 2004 JAM 2105,
“WA NENG MAU COBA KIRIM FOTO NENG LEWAT HP BISA KAN?”

Kujawab saja.
“Gak bisa neng. Hp wa Siemens C 35. E-mail saja ke emanrais@yahoo.com

SMS DARI NENENG UTIT 07 SEP 2004 JAM 2118,
“YA UDAH NANTI NENG COBA KIRIM MAKASIH YA WA WASSALAM”

Kujawab langsung.
“Kepingin sih. Kalu ada foto keluarga abah Karna dan masing2 foto sekeluarga anak2nya.
Buat disimpan di Album Potret Data Untai Keluarga biar pada saling tahu rupa”.

Sms ke Neneng Utit 09 Okt 2004 jam 0235
“Assalamualaikum wr wb.
Surat dari wa Eman dah dibaca belum?
Semoga maklum. Salam wa buat semuanya.”

SMS DARI NENENG UTIT 09 OKT 2004 JAM 2159
“WAK MAAF BARU DIBLS, NNG AMA KEL DILGJTI SEHAT SEMUA. GMN WA? SEMOGA BAIK YA. WA KPN MAU KE LGJATI? SALAM BUAT KEL DISANA. WASSALAM”

Sms ke Neneng Utit 09 Okt 2004 jam 2200
“Kami disini semuanya sehat.
Surat dari wa Eman, dah dibaca belum sama mamah Utit dan oom Nunung?”

SMS DARI NENENG UTIT 09 OKT 2204 JAM 2210
“YA SURAT WA DAH DIBACA. TRUS KPN WA MAU KE LGJATI?”

Sms ke Neneng Utit 09 okt 2004 jam 2215
Gimana dulu tanggapan dari kel abah Karna?. Wak ka lembur bisa kapan saja perlunya.
Masih banyak kok yang kudu di papay. Surat yang mana Neng, yang diatas bukan?

Sunday, October 10, 2004

Nyanyisunyi1

Namaku Imon. Aku sodara anu opat kalima pancer.
Nama sodaraku pendek saja : Eman.
Bagi budaya pulau Jawa bisa berarti sayang.
Sodaraku pernah berceritera.
Semasa kecilnya punya tetangga.
Yang berjualan nasi di proyek pembangunan jalan MH Thamrin pada 1953.
Suatu sore sepulang dari SR 20 Asem Lama kelas 3.
Sodaraku dalam perjalanan ke cubluk karena kebelet mau b.a.b.
Mendengar namanya dipanggil panggil, juga disenandungkan dengan lirih dalam langgam Jawa. Eman-eman-eman-eman-eman. Berbuntut panjang diulang ulang.
Mungkin entah, alun mistis ladrang ketawang.
Dari pintu WC, senandung itu semakin nyata.
Ternyata bersumber dari mbah Diro, yang sedang menina bobokan cucunya.
Sodaraku bertanya, ”Ada apa embah memanggil manggil saya? Ini saya Eman, embah.”
Simbah Diro tersenyum senyum simpul, tatkala menjumput sebutir telur asin.
“Iki Le, endog asin enggo kuwi. Wis, dolanan kae.”
Namanya juga anak kampung sodaraku tentu saja girang.
Sambil menggenggam dan menciumi kulit telur, maka di lanjutkan niatnya semula.
Setelah memelorotkan celana-monyet.
Sodaraku lantas berjongkok sambil tetap menimang telur.
Iseng, ujung kulit telur di adu adu kegigi depan. Dari retakan kulit, terjilat air asin yang sedap.
Tatkala mau istinja’ sekalian mandi sore, di mulut pagar sumur timba sodaraku bersirobok dengan mbah Diro. Mbah iseng saja menanyakan telur asin pemberiannya tadi. Sodaraku enteng menjawab, ”sudah habis kok embah. Daripada kecemplung mendingan dimakan saja.”
Simbah Diro cuma cengir sambil geleng kepala.

Sodaraku itu jangkung tinggi 182, waktu mati beratnya 96 kilo.
Ceriteranya waktu diusung ke makam, kurung batangnya dipikul 8 orang.
Mungkin juga saking berat perut dan dosanya.
Dimakamkan di TPU Karet Pasar Baru Barat. Dekat dengan neneknya atau Uyut Ami.
Padahal di areal itu pula sodaraku memulai tugas di Dinas Pemakaman DKI Jakarta sejak 1982.
Tahun 1985 pindah tugas ke TPU Tegal Alur.
Waktu mati saja sodaraku sempat bikin heboh.
Pasalnya sewaktu di butuhkan KTP nya untuk pembuatan surat pengantar dari kelurahan.
Dari dalam tas kempitnya ditemukan juga sepucuk amplop bertuliskan : Wasiatku.
Tatkala dibuka, dari selembar kertas HVS tertulis tujuh pokok wasiat. Diantaranya :
4. setelah doa kubur (talqin), agar dibacakan dengan lantang sajak Aku dari Chairil Anwar.
5. Ulangi 7 kali, bait : Aku ini binatang jalang yang dari kumpulannya terbuang.
Tetapi dengan kesepakatan keluarga besar, wasiat ini ditangguhkan dan baru dilaksanakan pembacaannya sesampainya di rumah.
Macam macam saja ulah sodaraku itu. Iseng dan usil kok berlanjut sampai ke liang kubur.

Setahuku sodaraku ini bukan seniman.
Meskipun terdengar kalau di masa mudanya di tahun 1967.
Pernah ikutan teater kecilnya aktor Mansyur Syahdan.
Tetapi agaknya tidak berkelanjutan.
Karena selain sibuk bekerja di PN GIA juga di 1968 mulai kuliah di FTM Unkris.
Ikut teater cuma sekedar taktik buat merabai hati neng Tati sang primadona.
Tatkala masih ngontrak dari petak ke petak di Menteng Pulo. Di penghujung 1977 sodaraku pernah punya pengalaman ‘riuh’, akibat rasa ‘kesenimanan’ nya.
Setiap hari Minggu aku ikut dianya rekreasi numpak motor ke taman taman di bilangan Menteng, atau ke pasar pasar loakan Jl Surabaya atau swembat di Manggarai.
Di taman Surapati, anak dan bini asyik main lempar tangkap bola tenis.
Sementara sodara duduk di rumput, asyik mengamati sekelompok seniman seniwati pimpinan aktor Mat Boneng sedang menggelar aksi dialog dan improvisasi.
Tiba tiba bapak didatangi seorang adik kelas semasa SMA.
Mengaku ‘Zaldy’, cergamis terkenal Ibukota.
Karena in-de-mood oleh ini itu, keduanya langsung akrab.
Zaldy mengaku sedang mengemban tugas ‘seeding’ dari TIM.
Mangkanya hadir di areal, untuk mengawasi kelompok ‘Ikranagara’ tengah berimprovisasi.
Mat Boneng yang urakan, sangat gondrong dan tonggos, memang masih ‘under-dog’.
Sesudah aktingnya sebagai orang gila di film kolosal Oktober 28.
Zaldy mengundang sodaraku untuk hadir hari Selasa lusa siang di gedung Kesenian Diponegoro. Untuk menguji tata gerak dan waktu dari sekelompok seniman yang akan ikut kompetisi bibit dan bakat di TIM malam Minggu depan. Tentu saja sodaraku menjadi ‘membara’.
Ceriteranya pada saatnya dianya hadir ditemani mas Toto, teman dekat aktor Herman Felani.
Oleh Zaldy, dianya dan mas Toto diperkenalkan kepada seluruh peserta.
Dianya agaknya menjadi terhanyut dan kemekmek, sampai lupa di bumi alam segala.
Zaldy lantas mengomando, agar aksi digelar.
Kemudian mendekati dianya dan mas Toto.
Sambil bilang ke mas Toto mau pinjam arloji.
Untuk menghitung waktu dari gerak peserta.
“Time and motion study.”
Bisik dianya dengan dialek Amerikana ke telinga oom Toto.
Sambil mencopot arloji Seiko chronograph kebanggaan.
“Yang ini saja dik, ada stop-watch nya.”
Dengan gerak pendekar menjura, arloji itu di sambut dan langsung membaur ketengah arena.
Zaldy datang lagi sambil menuntun lenggang putri manis yang katanya tokoh penata gerak. Sang putri dengan sikap penuh hormat menemui lantas berakrab karib.
Duduk di antara sodara dan mas Toto. Dianya lantas saja sibuk.
Sementara Zaldy duduk mendeko di sisi lain.
Sambil melonjorkan kakinya, yang bersalut blue-jean belel di lantai gedung.
5 menit kemudian neng putri pamit untuk kembali ke lingkaran.
Maklum saja rupa manisnya sang penata gerak.
Tentunya bisa dijadikan pengganti rohto penyegar mata.
Jam 5 petang mas Toto merasa lapar dan mengajak makan.
Lalu heboh pun terjadi karena Zaldy raib dari selonjor.
Hilang dari arena dan musnah dari pandangan dunia.
Dengan geram sodara lantas menggiring malam.
Semua hadlirin hadlirat ke Polsek Menteng sambil saling tuding.
Ternyata Zaldy juga membawa kabur arloji si manis.
Buah tangan tantenya dari muhibah abidin ke Amsterdam.
Dia lupa kalau chronograph di beli di New York.
Tatkala dianya keluyuran ngambah samudera.
Didepan polisi sang putri berujar,
“Oom. Kata bang Zaldy itu, oom berdua adalah produser yang mendanai kompetisi di TIM nanti. Ipeh tentu saja percaya, apalagi setelah berdialog dengan oom berdua perihal Herman Felani.”
Walah walah neng Ipeh mah.
Produsen kok mau sih berboncengan motor Honda biru CL-100?
“Iya oom, tadi sewaktu oom ngobrol bertiga.
Bang Zaldy pamit ke saya mau minum es dulu karena haus.”
Timpeh temennyeh neng Ipeh.

Terkecuali di sekitar 1982 - 1983 sodaraku suka curat coret tulas tulis bengang bengong. Membuat tulisan berantai yang entah sajak entah puisi.
Entah bermakna entah juga tidak.
Aku juga suka memahami karya sekaliber Kahlil Gibran.
Terinspirasi dari Kelopak Kelopak Jiwa, maka tulisan ini kususun.
Meskipun karya dianya mah ruwet, tidak puguh alurnya. Aku tak faham.
Namun anggaplah sebagai baktosku.
Kumpulan tulisan semuanya 28 halaman kuarto dan berisi 36 judul.
Oleh sodaraku disebut deret produksi.
Sebetulnya lebih dari 36 judul, karena dari urutan produksi ada 3 nomor yang hilang.
Kenapa bisa hilang? hanya awarahum yang tahu.
Karena kumpulan tulisan tersimpan rapi di dalam sebuah map snelhechter plastik.
Sekarang sudah terjilid dengan kertas bufalo hitam.
Karena dianyaku suka warna hitam. Kayak kebo entah dukun saja ya.
Produksi ke XV berjudul Sajak Bunga, karena cuma terdiri dari 5 baris.
Oleh sodaraku diselipkan di halaman produk VIII berjudul Mimpi mimpi II.
Dan produk IX berjudul Mimpi mimpi III. Lakon mimpi senandung emosi jiwa.

Awalnya di sore 29 September 1982, dianya iseng dan usil saja.
Cengar cengir bercermin sambil menganalisa tekstur jangat di wujudnya.
Lantas kertas bekas bungkus ikan asin ditulisi.
Agaknya dianggapnya sebagai produk pertama.

Nanti aku sudah tua, gigiku tinggal dua
Walau masih suka tertawa
Nanti anakku dewasa dan aku punya mantu
Punya cucu dari satu sampai pitu
Aku akan ceritera lucu syahdu dan penuh haru
Jalan hidupku banyak liku
Yang di jurang dan yang di awang awang
Aku yang tak punya harap ingin pergi dalam cinta
Dari siapa yang masih entah dimana
Tetapi terdalam berukir dalam hati rapuh
Aku mau bikin prosa biar dunia tertawa dalam doa
Biarlah, walau aku dingin di dalam sana
Bersama cinta senja sendu kepada sang endah
(Sajak Cinta).

Masa masa 1982 memang masa perjuangan hidup.
Perioda berjuang agar dianya bisa bangun dan hidup.
Di masa itu dianya masih tergolong melarat.
Pagi hari kerja di kuburan Karet Pasar Baru Barat.
Malamnya kuliah di Unija Pulomas Barat.
Maklum saja namanya PNS harus sekolah.
Kalau mau kenyang naik pangkat.
Meskipun kalau ‘ketandusan’ di kantor mah lain perkaranya.
Hari hari kerja terpaksa jarang bersama.
Meski ada anak semata wayang yang bersekolah di kelas IV SDN Karawaci III.
Pagi dianya berangkat anak bersiap ke sekolah.
Pulang malam jam 1-2 dinihari si Entongnya sedang lelap.
Tertekan oleh keadaan yang harus dijalaninya.
Dianya yang memang buruk rupa menjadi jelek adat.
Kalau sedang nyapnyap musiknya gedombrang piring gelas panci.
Kucing saja jadi mengkeret.
Tetapi jelek jelek begitu, kayaknya dianya rada menyimpan lebih dari kasih sayang anak saja. Pengejawantahan kecintaan dan kebanggaannya.
Dituangkan ke atas kertas pada 5 Oktober 1982.

Dia kecil tapi besar, dia muda tapi tua
Besar dan tua dalam wawasan
Hidupnya burung rajawali, sarangnya di mana dia merasa betah bahagia
Dunia rumahnya, hutan hidupnya, samudera jiwanya
Berderak menderu mencuat menuju hidup
Badai dan taufan mainannya
Tiada yang asing semua sama semua satu
Dalam angan dan tangan
(Perjaka Cilik)

Daek medu, sampai nungging pun aku tetap saja tidak faham.
Akan jelujur makna alam tulisan dianya.
Yang penting di alam nyata.
Kalau berkesempat an bersama meski sedikit.
Maka yang sedikit itu dia nikmati saja. Bini mah biasa sibuk sendiri.
Kalau waktunya banyak maka dia musafiran.
Berkeliling ke pojok sampai peloksok sisi alam ria Tangerang.
Berboncengan sama Otong naik motor Honda Biru CL-100.
Seperti Londo ireng saja.
Perjalanan begini tetap kudu berbekal air minum dalam feldvles.
Bungkusan roti isi, bermacam permen dan tidak lupa kamera plastik Fuji M-1.
Pesan sodaraku,
“Mon, meski cuman kamera plastik yang penting bergaya.”
Tak lupa topi pet. Helem waktu itu belum beken.
Kalau waktunya tanggung mereka mencari biji karet.
Di areal yang menjadi jalan Borobudur sekarang.
Anaknya kapok mencari biji karet sendirian karena pernah di udag udag ular kobra betina. Kalau sedang malas jalan, lalu berdua main gundu di lapangan sebelah kanan rumah.
Mainnya juga serius, kalau perlu pakai berantem segala.
“Bapak curang nih”, serunya protes.
Buntutnya tentu saja yang kecil pulang mewek.
Kalau sudah parah, bisa beberapa hari anak ngambek nyuwekin.
Keadaan stagnan begini ternyata melahirkan produk ke 3.

Aku rindu padamu
Tapi kau benci padaku
Kubayang dirimu pada diriku
Kulukis wajahmu pada wajahku
Kumerasa kita adalah satu
Walau hanya dalam kalbu
(Sajak Aku)

Sodara mulai tinggal di Perumnas 15 Juli 1979.
Saat itu dia baru 5 bulan menempati rumah di Jalan X Menteng Pulo, yang dikontrak 2 tahun.
Dianya agaknya segan pindah.
Karena terbayang jauhnya kuliah dari Tangerang ke jalan Gudang Areng di gang Kenari.
Meski di Tangerang, Unija ada filial yang berlokasi di SMA Taruna.
Tetapi agaknya dia lebih nyaman berkuliah di Jakarta.
Meski tempatnya kemudian pindah kian jauh ke gedung setengah jadi di Pulomas Barat.
Sodara agaknya hatinya sabil.
Mengingat masa kontrak yang masih lama dengan harapan bisa dioperkan.
Mengingat memiliki rumah sendiri itu jelas impian keluarganya.
Setelah kenyang berkali kali pindah rumah, seperti kucing beranak.
Dengan resiko tidak punya perabotan.
Karena selalu ada saja yang rusak saat diangkat dan diangkut pindah.
Namun lantas nawaitu saja untuk bersegera pindah.
Kalau tidak pindah memangnya eluh mau.
Kalau mandat dapet rumahnya dicabut kembali Man?

Proses memiliki rumah Perumnas itu tergolong kilat.
Ceriteranya isteri baru 3 bulan bekerja di Dinas Pemakaman DKI Jakarta.
Ditugaskan di seksi Kesra. Kepala Bagian Personalia nya kebetulan mas Didi.
Salah satu tugas bokin waktu itu, ialah membantu pengurusan dan proses permohonan perumahan kepada Perum Perumnas yang sedang memasarkan proyek Depok.
Salah seorang pemohon menyatakan batal.
Bokinnya yang merasa baru punya masa kerja 3 tahun lebih.
Berkonsultasi kepada Kepala Seksi untuk mencoba memanfaatkan formulir bekas.
Akhirnya dengan tip-ex data data pada formulir diganti dengan data data dari sang bokin.
Itupun untung untungan saja, karena persyaratan masa kerja minimal 10 tahun.
Mana tahu untung.
Tatkala mau di ajukan, berkas berkas itu ditolak oleh Depok.
Dianjurkan untuk dilanjutkan ke proyek Tangerang dan Klender.
Klender juga penuh, lalu dialihkan ke proyek Tangerang.
Dalam tempo sekitar sebulan datang panggilan perpos untuk wawancara.
Di kantor proyek di Karawaci Tangerang.
Pemohon yang lain dari dinas, datang beramai ramai diantar kereta jenazah biar heboh. Umumnya mereka memperoleh rumah, di sekitar jalan Dukuh.
Yang dijuluki sebagai ‘kompleks jauh’ dinas.
Wawancara ini agaknya dimanfaatkan siteteh untuk tamasya bulan madu.
Maksudnya diantar sambil memeluk pinggang dianya yang numpak motor.
Apalagi siteteh demen nemplok di punggungnya.
Goda bokin, “Babeh, kita bakal menjadi warga Tangerang.
Maka babeh harus tahu jalan lari. Mungkin usilnya kambuh, ketanggor hansip.”
Oleh karenanya bokin dan segelintir karyawan satu dinas.
Lokasi rumahnya diselipkan kepada lokasi huni bauran di blok blok yang lain.
Di blok 19 ini, sodara dan mas Sarbini di selipkan di Kentang V, pak Mangka Baruno di Selada, pak Poniman di Sawi. Di blok 20 oom Ketut di Sawi II, oom Hendro di Kentang III.
Kami menempati rumah inti tipe 21, luas tanah 90, bangunan rumah 18, kamar mandi/WC 3.
Uang mukanya Rp. 9.500,- sewanya Rp. 3.000,- sebulan.
Setelah 3 tahun baru dilakukan akad kredit.
Bagusnya pemerintah Orde Baru.
Uang muka dan sewa sejumlah Rp. 117.500,- dijadikan uang muka kredit.
Mangkanya patutlah kita bersyukur atas segala nikmat hidup.

Dua minggu menjelang Agustusan 1979.
Dianya di daulat menjadi ketua RT 02.
Waktu itu blok 19 terdiri 2 RT, 4 RT di blok 20 dan 5 RT di blok 32.
Semuanya itu kelak menjadi kawasan RK 08.
Oleh karena waktu itu belum ada RK apalagi Lurah.
Urusan administrasi kependudukan juga nebeng ke ki lurah Saropi dari Desa Cibodas.
Untuk kepentingan keamanan kebersihan lingkungan dan demografi.
Sodara mengundang para ketua RT untuk membentuk organisasi balon RK.
Karena banyak omong, maka dianya yang di tunjuk sebagai ketua RK.
Namun karena belum ada juklak dari Pemda Tangerang.
Dianya menyebut RK akronim dari Rukun Koordinasi.
Sebagai koordinator tugas khusus sodaraku di antaranya menyelenggarakan HUT RI ke 34.
Dalam suasana sederhana salah satu perlombaan bagi balita adalah balap kodok. Unik deh ya.
Menurut juklaknya, di tanah lapang digambar 6 jalur lomba seluas 6x6 meter untuk 6 peserta.
Jalur berupa garis lintang dan bujur berjarak 1 meter. Panjang setiap jalur 6x1 meter.
Setiap peserta dibekali kodok mainan dari tanah yang bisa dibeli dari penjual gerabah.
Gerakan kodok dan joki, setiap kali melangkah maju mulai dari garis start sampai finish dari setiap putaran ditentukan melalui biji dadu. Bunyi kodok mengikuti gelombang euphoria dari pesertanya. Wak wek wok.
Dinamika lomba bisa ditingkat, jumlah dadu dan panjang jalur bisa ditambah.
Pada waktu berlomba, anak rasanya kok nggak maju maju.
Tentu saja protesan : “Bapak, Entong kok nggak jalan jalan.”
Penyelenggara, joki, keluarga dan penonton pada ngetawain hahahihi.
Kalah di urutan juru kunci dari joki lain, dengan jengkel kodok tanah itu pecah berantakan. Dibantingkan bocahnya ke tembok kamar mandi.
Lantas teriak teriak : “Bapak curang. Bapak curang.
Nggak malu si bapak, curangnya sama anak kecil.”
Joki yang kalah juga ikutan protes.
Dari babak final, juara I dapat sebungkus besar kacang asin.
Juara II dapat 5 kotak kwaci, juara III dapat 5 butir permen kojak.
Juara harapan I dapat 3 butir, harapan II 2 butir dan harapan III sebutir.
Sekarang giliran warga se Rukun Koordinasi ramai ramai mengomeli saodaraku. Rasain luh.
Penjual gerabah yang dikontak sodara dari pasar Anyar.
Dagangan laku keras karena ide dianya ini diikuti oleh blok lain hampir se Perumnas.
Dianya mendapat upeti sepasang buyung berukir nagawarna.
Oleh sodaraku mulut buyung ini di sumpali woofer 6 inci.
Disambungkan ke sebuah radio mobil.
Jadilah 2 buyung bernyanyi dan suaranya ngegendrung stereoponik.

Isterinya bernama Djubaedah.
Di keluarga Sukabumi di panggil Edah.
Di lingkung teman temannya di panggil Dedah.
Di Tangerang hari hari kerja sodaraku memanggil Bedah.
Dalam tulisan atas nama siteteh.
Dianya menyamar sebagai Ratna Djubaedah.
Gile kali sodaraku ini.
Lain sayangnya ke anak lain pula sikap ke istri.
Suatu sore di awal Desember 1982 tatkala sedang menunggu bokin pulang.
Kayaknya saja suasana hatinya disergap rasa rindu kepada sang Endah.
Panggilan mesra dianya ke isterinya.
Dianya mengaca di pintu lemari.
Tampak tas make-up isteri.
Lantas saja satu persatu bahan bersolek, iseng ditempelkan di wajahnya.
Sambil tercenung begitu. kayaknya sajak Aku nya mengembang dengan sederet kalimat di benaknya. Kemudian tatkala ditulis di atas bekas amplop surat.
Bunyi bersihnya begini,

Di kala aku rindu kepadamu
Kusebut namamu pada namaku
Kulukis wajahmu pada wajahku
Kutatap matamu pada mataku
Kukecup bibirmu pada bibirku
Kupeluk tubuhmu pada tubuhku
Sampai kita seolah satu
Walau hanya dalam kalbu
(Sajak Rindu).

Rupanya begitulah awal dari masa riuh rendah heboh usil iseng kurang kerjaan.
Di dalam kolong sepotong jiwa yang cengeng dan rucil.
Entah apa juga yang merasuki jiwanya.
Lantas saja suka menjadi seekor gagak bernyanyi.
Semua sajak yang ditemuinya atau yang dihapalnya barang sepotong dua potong.
Sajak Aku nya Chairil Anwar, misalnya.
Dengan lantang serak bariton.
Yang tak sampai ke oktafnya karena nada suaranya bass rendah.
Apalagi napasnya pendek berlumur nikotin jinggo.
namun nekad disengorkannya saja bergaya seriosa Mamirotti dari kamar mandi.
Heheheh dasar si Eman.