Sunday, April 16, 2006

Tata, le claire-voyant.


Tata, 21 anakmuda ini kuyakini memiliki kemampuan supranatural. Kebetulan di awal Feb 2006 aku pernah mengukur daya bathinnya. Juga denganb Rifa, 23 tahun dengan jalan bersalaman sambil mewiridz Subhanallah-Walhammdulillah-Walaailahaillalohu-Allahu Akbar sebanyak mungkin.
Intuitif, Tata memiliki kekuatan super yang berasal dari warisan karuhunnya sebagai prajurit lapangan. Ternyata menurut pengakuannya ayahnya seorang KRT Keraton Ngajogyakarto Hadiningrat.
Tak ada salahnya kalau aku mencoba mencari masukan dari gua-garba nya Tata.
Penerawangan akan dilakukan sesaat menjelang Maghrib.

Technorati Profile

Fiona Nur Jaya?


Tidur siang dikasur tiup kembali diguncang mimpi aneh berakhir dengan kaki keram yang membuatku terbangun di jam 11:10. Tentu saja sudah saatnya mandi buat mempersiapkan shalat Dhuhur.
Aku mimpi berkumpul dengan Apa Mimih Uyut yang baru pulang sehabis bepergian.
Ketiganya tampak muda. Wajah Mimih tampak kemerahan karena terbakar matahari.
"Rasanya panas atau gatal Mih?"
"Iya panas dan runyam." Jawabnya sambil membasuhinya dengan kapas yang dibasahi airmawar.
(Tumben dalam seminggu ini asal mimpi mesti ada dialog. Padahal biasanya kalau mimpi tanpa dialog hanya simbolis.) Sementara ada juga Mamih Cawang yang tampak sepuh. Tiba2 ditengah makan siang Mamih nyeletuk. "Kok bau tai ya."
Celetuknya sambil tertawa tawa. Mendengar itu aku langsung muak lalu pergi. Aku mengenakan kemeja putih dengan pantalon beige dan sepatu hitam, berkopiah anyaman yang biasa kugunakan buat Jumatan ke masjid Baitul Huda. Diujung jalan yang mentok aku melompati tembokan batako yang saat jatuh hampir menabrak seorang gadis manis bernama Ema yang searah denganku.
"Kamu mau naik ketembok non?" Tanyaku buat mengurangi kagetnya.
"Tidak kok kangmas." Tawa cantiknya membuatku kaget.
"Kok kangmas sih? Kan aku bukan orang Jawa?"
"Iya kangmas Eman kan sebentar lagi bakal nikah sama putri Jawa."
"Wah kamu..." Kekehku sambil menuntunnya meliwati jembatan bambu. Sampai diseberang sungai yang airnya bening kehijauan aku merasa kaget kok dia tahu namaku.
"Aku juga tahu dipikiran kangmas Eman selalu ada Fiona bukan?"
"Kok?" Kagetku.
"Iya. Fiona Nur Jaya."
"Maksud kamu diajeng Fiona binti Nur Jaya?"
Tapi sigadis cuma tertawa saja memperlihatkan giginya yang putih bersih. Wajahnya lonjong berambut ikal pendek sekuduk. Mengenakan blus krem cerah berenda sulur. Mengenakan rok krem polos. Sepatu dan tas bahunya senada. Dasar krem dan atasnya berwarna coklat. Paduan warna yang apik ke kulitnya yang tampak kuning langsat keputihan. Ceritera mimpinya, Ema ini tengah berlibur sebagai mahasiswa S2 program pertukaran mahasiswa negara yang ditempatkan di Sabah Malaysia.
"Jadi gimana kemungkinan bersatunya aku dengan Fiona?" Tanyaku serius.
"Kangmas juga tahu kalau Fiona itu orangnya labil. Dianya masih ada masalah keluarga yang rumit. Tunggu aja setelah reda Fiona gak bakal kemana kecuali kepangkuan kangmas Eman ini." Kekehnya.
"Subhanallah walhamdulillah." Seruku sambil berjingkrak yang tentunya membuat kakiku keram.

Sihono


Semalam itu ada seorang anakmuda 23 tahun bernama Sihono teman SMUN 35 Karet Tengsin nya Mulyadi anaknya pak Saman mendatangiku yang tengah membakar rokok di pertigaan KK30-40.
Setelah berusaha mencium tanghanku dia bertanya,"Kalau menurut embah apakah saya sudah sehat apa masih sakit?" Tatapnya dengan serius. Melihat bayangan kelopak matanya tampaknya lagi stress berat.
"Memangnya kamu sakit apa?" Tanyaku rada kaget kok dianya langsung nanya penyakit.
"Sakit jiwa mbah." Tatapnya dengan dalam.
Aku lalu mengajaknya ke RM Sunda agar leluasa bicara bersama Wandi.
Sebelumnya kupesankan bakso dan 2 botol Tee-kita dari mas Harto.
Akan kucoba bantu dengan kompulasi data, psiko-analisa dan profilling.

Pagusten.


Hampir semalaman Jumat itu sampai pagi gak bisa tidur. Entah karena ambu menginap di Tangerang.
Setelah Shubuh aku berusaha tidur. Terbangun pada jam 10:10 dengan kaki keram. Entah kenapa kalau tidur di kasur tiup sering keram entah karena mengejan atau ada kesalahan pola pemikiran.
Dalam tidur itu aku bermimpi rasanya seperti ada di satu alam pedesaan yang lengang Kuningan.
Kulihat seorang wanita tengah baya berkebaya semu merah bercorak bunga melinjo, berkain panjang rereng berstagen hitam dan berselop kulit hitam era 1978. Aku mengambil lengannya sambil bilang,
"Teteh, tulungan...."
"Kenapa Jang?"
"Saya lagi terpesona kepada jeng Fiona. Tulungan biar menjadi."
Si teteh tampak komat kamit, lalu berujar sambil tersenyum.
"Ohhhh, Siti ...."
"Bukan Siti teh tapi Fiona."
"Iyalah Siti. Kan terdengarnya make Ti juga." Kekehnya.
Dalam rasa kaget aku bertanya.
"Memangnya teteh dari mana asalnya?"
"Dari gusti." Jawabnya santai.
"Gusti mana...?"
"Gusti mah ada dimana mana. Kapan di Jakarta ada kampung Gusti. Disini ada Pagusten.
Ada lagi Kabagusten. Kapan semuanya itu gusti gusti juga."
"Lalu saya kudu bagaimana teteh. Biar bisa laksana?"
"Ujang mah tenang saja dan terima jadi. Itu mah urusan siteteh."
"Kapan teh?"
"Tunggu saja datang waktunya. Pokoknya ngajadi...."

Dalam mimpi itu aku mengingat ingat. Bukankah ini wak Rien, kakak iparnya Apa Rais.
Semasa 1978 kami berlima Apa, Mimih, Didi, Uud pernah ke Linggajati nginap di hotel.
Saat ini aku melakukan jurit malam dari Cinangsi jam 22, sampai ke hotel Linggajati jam 02 melalui Cilimus dengan berpatokan kepada puncak pohon karet di alun alun Cilimus. Karena ingin memenuhi janji kepada Saudara Ending di Jl Raya Cilimus No. 178. Tapi orokaya disepanjang pematang sawah kering aku 2 kali berpapasan dengan rombongan 5 dan 7 orang yang bergolok dan membawa obor. Setiap kuberi tanda dengan sorot senter, mereka berhenti dan menunggu kedatangaku dengan golok terhunus dan 3 obor kearah tanah dan sisinya kearah langit. Apa dikiranya aku macan jadi2an karena mengenakan sweater biru belang putih dengan tutup topi belang dengan warna yang sama. Mana aku menggunakan sepatu kulit hak tinggi yang kubeli semasa di Durban, atuh puguh bunyinya kayak Baby Elephant Walk. Ending adalah teman semasa jadi diatas kapal pesiar ss Rotterdam 1976/1977.
Umumnya mereka pada bilang, "Kok berani amat jalan sendirian malam2 begini."
Kang Enjot sepupuku bilang, "Gila kamu. Kita orang Linggajati aja gak ada yang berani."
Komentar Apa Rais, "Man jalur yang kamu tempuh itu adalah pangliwatan macan penjaga dayeuh."
Pantesin aja, dalam perjalanan dari Jl Raya Cilimus sampai hotel Linggajati ada 3 mobil beriringan dan sekelompok remaja bersepeda motor. Saat disetop minta tumpangan karena sudah lelah tak ada yang mau berhenti malahan pada tancap gas. Katanya sih seminggu sebelumnya ditempat aku menyetop ada pengusaha dari Semarang yang digorok lehernya oleh begal yang pura2 mau menumpang.