Wednesday, October 24, 2007

Cinta Berkembang di Usia Rembang

SEKELUMIT ROMANTIKA KEHIDUPAN
Minggu, 23 Februari 2003



Cinta Berkembang di Usia Rembang

BETAPA dahsyatnya kekuatan cinta. Perasaan indah karunia Tuhan yang umurnya setua dunia itu tak pernah mengenal batas waktu dan ruang. Bertebaranlah menyemai bumi Tuhan hinggap pada setiap insan dewasa. Kemudian, lahirlah lambang kekuatan cinta dalam karya-karya pujangga. Juliet, Shakuntala, Siti Nurbaya, dan Neng Eha adalah tokoh perawan yang mencoba mendobrak kekejaman tradisi yang melecehkan cinta di zamannya kendati berakhir dengan kepedihan. Kemudian, lahirlah cinta pasangan manusia dalam berbagai usia.

Walau demikian, cinta dua manusia yang berlainan jenis cenderung diidentikkan dengan remaja. Cinta berahi seakan hanya monopoli kaum muda. Orang tua yang bercinta dianggap menyalahi etika moral. Benarkah demikian?

Nyonya Patrina Adidjaya (59 tahun) sengaja datang kepada pengasuh untuk menceritakan unek-uneknya tentang cinta. Ia tak berani berkata kepada siapa pun, termasuk rekan-rekan sebayanya. Itulah, karena Si Tua bercinta hanya akan ditertawakan burung Nuri, katanya. Padahal, siapa yang kuasa mematikan perasaan romantik itu karena rasa itu karunia Tuhan.

”Di Barat, orang tak pernah tertawa melihat nenek-nenek dan kakek-kakek pacaran. Di sini ya ampun malunya. Kata orang Sunda mah beberenjen saya teh,” ujarnya terkekeh.

Wanita yang masih tampak cantik itu berbicara dalam bahasa daerah yang halus dengan logat lekoh. Dulunya ia seorang wanita karier. Ini masih membekas pada cara bicara dan berbusananya. Setelah pensiun, ia tinggal di rumah dengan tenang. Putra-putrinya semua sudah menikah, bekerja, dan mandiri. Ada tiga cucu yang kini menemaninya di rumah karena kedua orang tuanya sedang dinas di luar Jawa, berikut suami istri, pembantu dan sopir merangkap tukang kebun. Namun, ia tak pernah kesepian karena setiap hari beberapa cucunya dari anak yang lain dititipkan di rumahnya ketika orang tua mereka bekerja. Untuk mengisi hidupnya, ia menjadi anggota sebuah kegiatan sosial.

Pada suatu saat Nenek cantik ini seperti biasa mengantar cucunya ke TK. Tak biasanya, ada kakek yang juga mengantar cucunya di sekolah yang sama. Mulanya cuma saling menegur, lama-lama saling bercerita tentang nostalgia.

”Rupanya dia, meminjam kata anak bungsu saya mah, duren alias duda keren. Ya ampun, setelah belasan tahun menjanda ditinggal mati ayah anak-anak, baru sekarang saya deg-degan lagi. Kayak anak remaja. Sama saja seperti pertama kali saya naksir teman pria waktu berumur belasan tahun. Saya malu, tetapi bagaimana yah, malah jadi semangat nganter cucu. Dan, tampaknya dia juga begitu. Kelihatannya, penampilannya berubah. Bajunya jadi sedikit nge-trend. Hanya tak sampai menghitamkan rambut saja. Dia tanya apa saya tidak kesepian hidup sendiri. Saya jawab teh tidak. Dia bilang ah, yang jujur saja menjawab. Anak cucu itu kan sepanjang butuh, mau datang pada kita. Kalau tidak butuh mah sebulan sekali juga belum tentu ingat. Begitu katanya.”

”Lalu Ibu berterus terang bagaimana perasaan sebenarnya?”

”Ah, tidak. Malu saya.”

”Tetapi akhirnya Ibu pacaran juga?”

”Belum, belum sampai ke sana. Ceritanya kami berbincang tentang politik sekarang, tentang buku-buku yang pernah kami baca, tentang masalah pendidikan, dan klop. Kami banyak sepaham. Ternyata saya dan dia pernah jumpa saat pergerakan mahasiswa, tahun 65-an. Mungkin sesama mahasiswa kami pernah berbaur dalam demonstrasi itu. Terus meminjamkan CD yang dulu-dulu. Zaman Troy Donahue, Marilyn Monroe, Clark Gable, dan Vivien Leigh. Ia mengajak membeli CD ke toko yang khusus menjual film klasik. Orokaya Si Cucu comel. Dia bilang sama ibunya dibelikan es krim oleh kakek teman sekolahnya. Anak saya tertawa ngakak. Ngobrol punya ngobrol, dia akhirnya terus terang ingin menikahi saya.”

”Ibu menyambut ajakannya?”

”Alaah mana berani? Waktu itu baru pedekate.”

”Apa itu pedekate?”

”Pendekatan, kata cucu saya,” jawabnya sambil ngakak. ”Saya iseng minta pendapat pada adik yang sama-sama sudah nini-nini. Katanya apa-apaan cari susah. Sudah enak-enak hidup tenang, cari masalah. Belum harus meladeni kakek-kakek, belum menghadapi anak-anak tiri. Sudah mendingan hidup sendiri. Mani hayang mepeg tah ka Si Adi. Tidak merasakan kegundahan saya.”

Wanita berpenampilan apik itu tertawa ditahan.

Da saya teh cuma butuh teman ngobrol, dia cocok.”

”Lalu Bapak juga demikian?

”Iya. Namun, ia juga katanya ditertawakan anak-anak cucunya. Malah ada yang tegas-tegas menentang kalau bapaknya mau menikah lagi. Saya mah datang ke pengasuh soteh, dengan harapan kisah saya dimuat di rubrik ini, biar pembaca yang punya orang tua hidup sendiri, jangan diejek, apalagi dihalang-halangi apabila mereka ingin menikah lagi. Kami yang seumur-umur ini masih dihinggapi rasa cinta dan kebutuhan punya teman hidup. Mereka sangka menjadi tua itu akhir segalanya? Sesekali kita dibuat jengkel oleh anak menantu, sesekali pula ada masalah yang harus dihadapi. Nah, kalau punya teman hidup mah, ada yang bisa diajak bicara.”

”Lalu bagaimana dengan Ibu, sudahkan berterus terang pada anak cucu?”

”Belum. Sekali pernah sambil sindir sampir, anak-anak malah tertawa terbahak-bahak, seakan akan kalau orang tua jatuh cinta itu patut dianggap lelucon. Tadinya kami berangan-angan akan menikah. Hanya bingung mencari timing yang tepat untuk berterus terang kepada anak-anak. Yang kemudian menjadi pemikiran, masalah tempat tinggal. Saya tidak mau dianggap anak-anaknya menikahi Si Tua keren itu karena hartanya, tetapi dia juga tak mau tinggal di rumah saya, alasannya sama.”

”Pernahkah dibicarakan rencana untuk membeli rumah baru, Bu?”

”Naah , that’s a good solution. Ada lagi yang menjadi masalah, yaitu cucu. Saya tak mau berpisah dengan cucu-cucu, dia juga sama. Namun, kalau disaturumahkan, terbayang paraseana. Sama-sama cucu sedang nakal-nakalnya, euleueuh tentu pada berkelahi. Kata adik saya, meugeus tak usah mau bersuami lagi, mendingan ibadah bawaeun maot. Memangnya bersuami tidak termasuk ibadah? Mau saya, baik anak-anak dia maupun anak-anak saya sama mengerti akan kebutuhan kami. Bukan salah kami bila cinta ini datang dan berkembang di usia rembang, kan?” ujarnya sedikit terkekeh.

”Apakah Ibu berencana akan menikah?”

”Bagaimana mungkin? Sikap anak-anak kami tampaknya menganggap lelucon.”

”Lalu bagaimana selanjutnya?”

”Ya, we just say good bye saja,” ujarnya lirih. ***

Pesan Pengasuh:

* NYONYA Wati (25 tahun) terpaksa harus berusaha agar bisa makan. Suaminya kena PHK dan sudah mencari pekerjaan ke mana-mana, tetapi belum berhasil.

”Saya memasukkan makanan kecil ke warung-warung. Saya membutuhkan modal Rp 200.000,00 untuk menambah makanan ringan agar dapat penghasilan agak lumayan. Terima kasih bila ada dermawan yang bersedia menolong saya,” ujarnya.

* BUNG Empay (30 tahun) lelaki serbabisa. Nmaun, karena pabrik tempatnya bekerja bangkrut, ia terpaksa kehilangan pekerjaannya. Lama ia menganggur karena mencari pekerjaan tak juga dapat. Padahal ia bisa membuat jok mobil, mengemudi bus, dan punya SIM B1.

”Saya harus menghidupi keluarga, dengan tiga anak yang sedang sekolah di SD, tolonglah saya Pembaca, berilah saya pekerjaan apa saja,” ujarnya.

* NYONYA Enong (31 tahun) hidup bersama suami dan anaknya. Suaminya berdagang sukro dan ia mengambil upahan mencuci. Namun malang, sejak Lebaran uang dagangan sukronya belum dibayar dan tak ada yang mengupah cucian. Padahal, ia harus membayar uang SPP anaknya yang sudah enam bulan tidak dibayar. Per bulannya ia harus membayar Rp 26.000,00.

”Saya memohon pertolongan Pembaca sudilah kiranya menolong anak saya agar ia bisa terus sekolah. Bila tidak segera membayar, ia harus ke luar. Tolonglah!”

Kepada Pembaca yang tergerak hatinya untuk menolong, silakan hubungi yang bersangkutan d.a. Kantor Redaksi HU Pikiran Rakyat, Jln. Soekarno Hatta 147 atau ke Kantor SKM Galura, Jln. Belakang Factory 2 A Banceuy Bandung.

* PAGUYUBAN Insan mandiri (PIM), pada 9 Maret 2003 mendatang akan mengadakan darmawisata sebagai acara pertemuan rutinnya di Gunung Puntang, Garut. Seluruh anggota dan calon anggota boleh ikut serta, dengan mendaftarkan diri ke rumah Ny. Euis Komariah di tlf. 7308456 atau Ny. Nien 7565626. Rombongan akan berangkat pukul 07.00 WIB dari Jln. Buahbatu 145 Bandung.

* NYONYA Alinda Hariani, Ny. Karina Sinta. Ny. Omah, Ny. Yumi, Ny. Isti, dan Ir. Andi ada surat untuk Anda sekalian. Silakan ambil di meja Pengasuh. Terima kasih. ***

SUPLEMEN




IKLAN





HALAMAN DEPAN
KE ATAS
PR CYB

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0203/23/04.htm
urangsunda
<-- Terurut Topik --> <-- Terurut Waktu -->
[Urang Sunda] Balada Cinta jang Adun part-4

syam ridwan
Tue, 03 Jul 2007 21:00:19 -0700

MARTABAK oh MARTABAK
"Odah....neng odaaaah....! Kamana nya neng odah teh?" bapana neng odah gura
gero ti rohangan tengah.
"Ieu abdi mah nuju dikamar....pameng nuju ngandelan halis!" sora neng odah
moncor na sela sela panto nu teu rekep nutupna.
"Naha pan halis odah mah geus ngajelir ti ajali, ngajepat ti kudrat, naha make
diropea deui?"
"Ih pan meh langkung edun atuh bah !"
"Diropea make naon deui atuh?"
"Ieu nuju dikandelan deui meh ngajeler paehna langkung atra, ngan kakandelan
teuing janten siga lele dumbo ngajepat!"
"Ceuk abah ge montong dilenggerkeun. Back to nature we atuh neng!"

Panto kamar ngareket lalaunan, langeor neng odah kaluar tijobongna.
"Aya naon bah?"
"Kadieu geura, abah aya perlu, meungpeung siambu keur suwung!"
"Meuni rareuwas, aya pikersaeun naon atuh bah?"
"Yeuh pan isukan dilembur urang aya jaipongan, bisi abah ka soderan, ieu buuk
pangnyemirkeun heula!"
"Tuh nya siabah mah bisa wae ka eneng, bek tu necur, bek tu necur, ari
soranganana beberenjen!"
"Tong ngalawan ka kolot pamali! Sok tah da oli urut na mah geus sayagi,
pilakadar ge tinggal ngoleskeun!"

Najan semu jejereged, neng odah langsung ngoles ngoleskeun oli urut anu hideung
lir gegenek ka sirah bapana.Imeut pisan.
"Mun ningali kieu mah, pasti si dongkrak teh bakal nempel yeuh ka abah!" ceuk
bapana neng odah bari ngagalar gilir eunteung.
"Si dongkrak teh saha tea atuh bah?"
"Itu ronggeng idola abah, anu rek manggung isukan!"
"Beu..beu diwartoskeun siah ka siambu...Bah!"
"Montong....ke kuabah jatah apel hidep jeung jang adun diperpanjang. Aeh
enya...ngomong ngomong asa geus lila tara ningali jang adun ulin kadieu. Keur
pagetreng nya?"
"Ah henteu bah, biasa nuju sibuk ngamodif delman gadeanana!"
"Di modif nanahaonana?"
"Eta saurna, perna digentos ku per keong, meh ceper sareng pami aya logak teu
nyentug teuing kana jajantung, teras velkna digentos ku velk resing, atuh jokna
nganggo besot, cena nyaranghareup kapayun tur ditambihan sandaran anu dibungkus
ku kulit meong, sisi pada sisina dicangreudan safety bell. Meh keren palih
payunna, persis pengkereun buntut kuda dipasangan dash board kumplit sareng
stereo set digital, tv flat 12 inci,laptop anu bisa diselerekeun kajero sacara
otomatis, ah pokona mah mun naek delman kang adun, serasa naek innova, kitu
saurna teh!"
"Euleuh sabaraha heraneun cenah biayayana?"
"Saurna, pami dijumlah jamleh kenging duaeun merci panganyarna..bah!"
"Baruk...hayang teuing geura ningali jegrigna. Iraha cenah nek nganjang kadieu?"
"Puguh..saleresna mah anjeunna teh nuju pundung, matak tara kadieu ge. Bah!"
"Har...nya aya masalah naon atuh bet pundung sagala?"
"Eta bah...waktos abdi jajan sop buntut, lantaran wareg teuing,atuh libido abdi
naek, katambih kang adun, bet nyarios buntat buntut sagala, nya belentrang
tarang kang adun jadi sasaran. Libido hoyong tukal takol tea bah!"
"Ah mun kitu mah...hidep mah nyeclek kawas siambu atuh. Yeuh tarang abah codet
teh nya kunaon atuh?"
"Sanes tidagor kana sayang enggang tea bah?"
"Ih lain....puguh gara gara cungkir panas anu diketrokeun ku siambu kana tarang
abah!"

Keur gutreng ngobrol, kurunyung emana neng odah ngurunyung tidapur.
"Mun tibaheula atuh apana, buuk disemir teh meureun diservis ku siambu unggal
peuting!" ceuk emana neng odah, pedah ningali salakina robah
panampilan,kalinglap jadi ngora deui lantaran buukna ngadadak hideung deui.
Manan ngawaro omongan pamajikanana, bapana neng odah kalahka ngiceupan ka
anakna.
"Neng awas mun rea beja....jatah apel ngurangan siah!"
"Aya naon ieu teh...asa jadi carurigeisen kieu yeuh?"
"Ah euweuh nanaon...ambu! Aeh enya meungpeung keur ngumpul yeuh, abah nek
nyarita, peuting tadi abah teh ngimpi,dina rasa teh aya aki aki make pakean
sarwa bodas, terus mere ilapat ka abah kawas kieu "lamun peuting ieu aya
semah,pas datang langsung dedehem terus uluk salam, mawa kadaharan anu hurup
awalna tina "M", terus make sendal sisirangan, eta semah teh lain jelema tapi
jurig jarian nu nyiliwuri, setan belang anu mindah rupa, anu boga sipat lir
ucing garong, teu kaop nempo paisan sok langsung we kumerot". Mangkana tisemet
ieu, kudu ati-ati bisi ilapat ieu bener bener kajadian!" ceuk bapana neng odah
mungkas carita. Karek ge nek carengkat, tiluar kadenge aya nu dedehem terus
terus uluk salam.
"Ehem..ehem....sampurasun!" nu dijero tibatan ngajawab mah kalahka sing
rarindat. Atuh nu uluk salam kalahka beuki tarik tur tambah lambat, melengkung
lir sora sipelung.
"Sampurasuuuuuuuuuunnnnnnn!" nu dijero angger ngadedempes.
"Abah...asa apal sorana mah, sora kang adun!" neng odah ngahareweos kabapana.
"Heueuh da abah ge asa apal, sok atuh tembalan, terus pariksa barang bawa teu,
terus pariksa deui sendalna naha sisirangan!" tembal bapana sarua ngaharewos.
"Rampessssssss...saha eta?"neng odah ngajawab matak dedengeeun ku halimpuna.
"Ih piraku teu apal..pan aa adun tea atuh neng!"
"Ke heula atuh wang buka heula pantona, tapi omat nya tong waka kalebet!"

Bray panto dibuka, enya we nu ngabedega dina lawang panto teh jang adun, bari
katingali mawa hiji bungkusan.
"Nyandak naon eta A?" tanya neng odah semu curiga
"Kasedep eneng pan...Martabak!"
"Naon...Mar....martabak....! Abah enya tina M!" neng odah langsung laporan
kabapana.
"Pariksa sendalna neng!" bapana marentah
"Ke ari sendal teu sisirangan kitu?"
"Naha make naros kitu? Ke atuh wang parios heula! Ambuing...ambuing naha kawas
nu eusleum wae ieu teh, nu kenca sendal capit ari nu katuhu sapatu boot!"
"Abah..leres yeuh sendalna ge sisirangan!" neng odah laporan deui.
"Geus teu salah deui, jurig jarian, geuwat tutupkeun pantona, papaisan geuwat
ampihkeun!" parat bapana ngomong, jelebet panto ditutup satakerna, mun teu
ngagiwar mah meureun tarang jang adun pasti jadi korban deui. Sajongjongan jang
adun olohok, teu ngarti ku polah neng odah, siga ngadadak owah, nutupkeun panto
teu pupuguh.

"Memang cinta ituh penuh pengorbanan yah!" gerentes jang adun, bari
ngabelewerkeun bungkus martabak kaluhur. Belesur....martabak ngawang
ngawang...terus nyirorot...kahandap....gejret....ninggang sirah jang adun.
Daligdeug tewewewewwww! **SR**





[Urang Sunda] Balada Cinta jang Adun part-4 syam ridwan
Re: [Urang Sunda] Balada Cinta jang Adun part-4 Eko Ruska Nugraha
Re: [Urang Sunda] Balada Cinta jang Adun part-4 syam ridwan
Kirim email ke

http://www.mail-archive.com/urangsunda@yahoogroups.com/msg58178.html

Tuesday, October 23, 2007

Most Popular Outgoing Link by MyBlogLog Click Tagging.

Most Popular Outgoing Link by MyBlogLog Click Tagging.
Ranking of 75 blogs, on date Okt 23, 2007. Hours 20.30
(vide URL http://renungansekilas.blogspot.com/)

*Chichi, Most. Bajajbutut, 2nd. Blueberry, 3rd. PatLapat, 5th. ResepAlamiah, 6th. TebakManggis, 7th. *Adel, 8th. *Adel1, 9th. Aa-eman, 10th. AstridRahayu, 11st. Beberenjen, 12nd. BukitBluwek, 13rd. Cangehgar, 14th. DiaryPrenster, 15th. Gaby, 16th. Holistik, 17th. Iptek, 18th. Leona, 19th. Lili, 20th. ManaDimana, 21st. Mila, 22nd. Pancakaki, 23th. PondokRipi, 24th. Risanti, 25th. Silsilah, 26th. TulasTulis, 27th. Wisatas3, 28th.

Santa's Link Love: Santa's Link Love... Update Three
Technorati Profile